• Muslimah Sholehah

    Jika wanita cantik itu ibarat bintang-bintang langit, wanita yang tahajud di sepertiga malam tentulah yang paling bersinar di gemerlapan

  • Tsukuba University

    in Tokyo.

  • Rumah Pelangi

    Kita berwarna dan dengan keimanan kita ingin mewarnai lingkaran sekitar

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di depan Aula kampus UIN Suska

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di Kerajaan Siak Riau

Tampilkan postingan dengan label Ukhuwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ukhuwah. Tampilkan semua postingan

Menikah untuk Muliakan Sunnah

Rabu, 19 September 2012 0 komentar

by Mohammad Fauzil Adhim on Wednesday, June 13, 2012 at 11:48am ·

Semoga Allah Ta’ala ampuni saya.

Baguskan niat dan perbaiki terus-menerus. Selama perjalanan menuju pernikahan, tidak ada bekal yang lebih penting untuk engkau persiapkan melebihi niat dan ‘ilmu. Keduanya saling berkait. Niat akan menentukan nilai dari pernikahan yang akan engkau jalani, bahkan dari pernikahan yang mungkin tidak sempat engkau jalani karena kematian datang lebih cepat daripada pernikahan. Tetapi niatmu yang lurus dan kesediaanmu untuk berbenah mempersiapkan diri menunaikan sunnah Nabi saw. berupa menikah, akan menentukan apa yang akan engkau dapatkan dari Tuhanmu, Allah ‘Azza wa Jalla yang tiada sekutu baginya. Dan tidaklah engkau dapat menata niat dan membaguskan tujuan dengan benar kecuali dengan memahami ilmunya. Ilmu juga sangat penting bagi keberlangsungan pernikahan. Sebaik apa pun niatmu dalam menikah, engkau memerlukan ilmu untuk memasukinya, menjalani dan merawatnya.

Maka, tidak ada yang lebih mendesak untuk aku pesankan kepadamu melebihi niat dan ‘ilmu. Semakin jauh mengarungi pernikahan serta semakin banyak belajar, semakin terasa pula betapa kurangnya bekal yang ada pada diri ini sebelum memasuki pernikahan. Tampaknya sepele, tapi niat amat sering terabaikan sehingga tidak tertata dengan baik. Sangat berbeda antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang sungguh-sungguh mendasari dan menggerakkan kita untuk menikah.

Sesungguhnya, sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah, yakni Al-Qur’anul Karim. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Tidalah Muhammad saw. berbicara kecuali dengan bimbingan dan pengawasan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, Muhammad saw. adalah manusia yang terjaga (ma’shum) sehingga tak akan bertentangan antara perintah dengan tindakannya. Tak ada perintah Allah Ta’ala yang datang kepadanya kecuali beliau shallaLlahu ‘alahi wa sallam laksanakan dengan penuh kesungguhan.

Jika engkau mengingini pernikahan yang penuh barakah, maka ikuti petunjuk manusia yang paling baik petunjuknya, yakni Muhammad Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikan apa yang mendatangkan barakah, apa pula yang menjadikan pernikahan sangat besar barakahnya. Mari kita ingat sabda Nabi saw., “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah (ringan)." (HR. Al-Hakim).

Perhatikan olehmu: yang paling mudah maharnya. Maka sederhanakanlah olehmu mahar. Perhatikan juga sabda Nabi saw. yang menjadi penegas betapa sederhananya mahar merupakan salah satu bentuk keutamaan. Sabda Nabi saw., “Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah (maharnya).”(HR. Abu Dawud).

Hadis ini menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita tentang keutamaan meringankan mahar. Maka janganlah engkau memberat-beratkan diri dengan perkataan sebagian orang yang berkata bahwa Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memberikan mahar kepada isterinya dalam jumlah yang amat fantastis. Sebuah tulisan di majalah Islam yang membuat saya merasa sangat sedih bahkan dengan berani berkata bahwa Nabi saw. memberikan mahar senilai 3 milyar rupiah. Ini adalah perkataan yang dapat menyebabkan fitah syubhat dan sekaligus fitnah syahwat; dua sebab kerusakan agama yang amat serius akibatnya bagi iman.

Bersebab halusinasi bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memberikan mahar hingga milyaran rupiah nilainya, seorang akhwat bahkan bersungut-sungut menolak bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam adalah penggembala. Padahal riwayat yang menunjukkan setiap nabi pernah menjadi penggembala adalah shahih. Mereka demikian terpukau dengan ucapan sebagian manusia yang mengatakan bahwa Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sudah mulai menjalankan bisnis di usia 8 tahun. Padahal inilah usia ketika Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berpindah pengasuhan dari kakeknya, Abdul Muthalib, kepada pamannya: Abu Thalib.

Kembali ke soal nikah. Ingatlah nasehat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menetapkan mahar para wanita karena jika mahar itu dianggap sebagai pemuliaan di dunia atau tanda takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dahulu daripada kalian untuk berbuat demikian.” (Riwayat Abu Dawud).

Ini merupakan riwayat yang shahih dan bertutur tentang apa yang seharusnya kita perhatikan saat menikah sekaligus menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah berlebihan dalam memberikan mahar. Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah bin Baaz rahimahullah berkata bahwa mahar yang diberikan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melebihi 500 dirham. Berapakah nilainya 500 dirham itu? Ukurlah nilainya saat itu di sana (catat: di sana!), lalu takarlah menurut ukuran sekarang di sana. Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah bin Baaz menunjukkan dalam Fatwa-Fatwa Terkini terbitan Pustaka Darul Haq bahwa 500 dirham setara dengan lebih kurang 130 riyal. Jika dirupiahkan, lebih kurang sama dengan Rp 325.000,-.

Nah.

Maka, apakah yang menghalangi kita untuk meringankan mahar jika ini menjadi jalan kebaikan? Bukankah kita menyimak dalam sejarah dan membaca dalam riwayat bagaimana Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam menyerukan kepada kaum muslimin untuk memudahkan mahar. Ketika seorang laki-laki tak sanggup memberikan mahar dalam bentuk harta berharga, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallambahkan bersabda, “Carilah sekalipun cincin yang terbuat dari besi" (HR. Bukhari).

Dan ketika cincin yang terbuat dari besi pun tak dapat ditemukan oleh lelaki itu, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam menikahkan dengan mahar berupa bacaan beberapa ayat Al-Qur’an.

Semoga Allah Ta’ala limpahkan barakah kepadamu dan semoga Allah ‘Azza wa Jalla kumpulkan kebaikan engkau berdua dalam kebaikan, lalu menghimpunkan engkau bersama orangtua dan keturunanmu di sebaik-baik tempat, yakni surga, bersebab kesungguhanmu untuk melaksanakan sunnah dan keridhaanmu menjalani pernikahan yang amat sederhana. Semoga pula Allah Ta’ala ringankan jalan menuju pernikahan, dekatkan jodoh dan menyegerakan datangnya saat untuk menikah.

Lalu, apa yang harus engkau lakukan jika jodoh tak kunjung datang meski ikhtiyar tak putus-putus engkau lakukan? Bersabarlah dan kemudian bersabarlah dengan sungguh-sungguh. Apa yang Allah Ta’ala takdirkan bagimu akan terjadi, sebagaimana telah tetapnya kematian atas kita. Tidak penting kapan kita mati, yang paling penting adalah bagaimana kita mati. Atas perkara jodoh, penuhilah segala yang menjadi asbab terjadinya pernikahan yang barakah. Jika Allah Ta’ala telah tetapkan bagimu jodoh di dunia, maka kesungguhanmu dalam menetapi apa yang seharusnya engkau lakukan, semoga menjadi asbab Allah Ta’ala limpahkan kebarakahan hidup dan kebarakahan pernikahan bagimu. Adapun jika Allah ‘Azza wa Jalla telah tetapkan tidak adanya kesempatan bagimu untuk menikah, maka kesungguhanmu dalam bersiap tetaplah merupakan kebaikan yang mulia.

Baguskanlah dirimu. Perbaiki akhlakmu. Dan janganlah engkau berputus asa dari rahmat Tuhanmu. Semoga kesungguhanmu membaguskan diri menjadi asbab untuk diperjumpakannya engkau dengan orang yang amat tinggi kemuliaan agama dan akhlaknya. Ingatlah ketika Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur, 24: 26).

Renungkanlah!


Melapangkan Hati Sesudah Menikah

Menata niat dan membekali diri dengan ilmu sebelum menikah benar-benar perkara yang sangat penting. Tapi bukan berarti pernikahan menjadi akhir dari keharusan untuk senantiasa berbenah dan menjaga niat. Menata hati tak mengenal kata putus, sebab pada segumpal darah inilah baik dan buruknya diri kita ditentukan. Jika hari ini kita mampu zuhud dan qana’ah, bulan depan belum tentu jika kita tidak gigih menjaga hati. Terlebih ketika berduyun-duyun manusia menyeru kita untuk kaya dan meletakkan kemuliaan pada banyaknya harta. Di antara mereka ada yang merangkai dengan kisah-kisah yang seakan sunnah untuk menguatkan seruannya.

Letak masalahnya bukan pada kekayaan, tetapi pada orientasi kita. Jika kita telah mengalami perubahan orientasi dari akhirat kepada dunia, maka terjadi pula perubahan dalam berbagai aspek kehidupan kita, termasuk bagaimana kita memandang manusia maupun penampilan. Dari sini, banyak hal bisa terjadi.

Pertemuanku bersama 2 Mutiara Kecil

Minggu, 08 Januari 2012 2 komentar


Rabu itu,, sepulang dari coaching dengan 2 saudariku yang lain. . pulang diliputi kegalauan, kegalauan yang akan membawaku kepada langkah-langkah nyata, aamiin.. kini aku pulang dari jalan Tubagus sendirian tanpa ditemani seorang sahabat cantik. Yang biasanya aku selalu tertidur di pojok angkot, kali ini mata terus terbelalak sampai aku turun di depan gang Panorama Setiabudhi. Pikiran melayang memikirkan ini dan itu, berkelana kesana dan kemari, berlari-lari menerawang ujung dunia, hhm..mungkin aku memang harus mencari seorang + alias “perantara”.. Hhsssttt... cerita di lain waktu aja,, hhe.
Setelah kaki ku langkahkan keluar angkot, kaki pun ikut galau mau ke Gerlong (cari buat makan malam) atau langsung melangkah ke kosan, dengan keadaan yang ga normal (kataku) kaki ini cuman bolak balik ngehadap ke jalan-berbalik-ke jalan-berbalik lagi,, bingung... trus aku liat 2 mutiara kecil di sebelahku,

“sedang bawa apa de?” tanyaku setengah sadar kala itu.

“botol teh” ucap mulut yang suci itu.

“kaya gitu dijual per kilogramnya berapaeun (masuk deh basa sundanya, hhe)?”

“seribu teh” ucap mutiara kecil yang sedang mau nyebrang itu.

“Hah, serius...? cuman seribu?” ucapku dengan mata terbelalak dan mengembalikan nyawaku yang entah sudah menerawang kemana.. “Ikut teteh yuuu... teteh di kosan ada banyak botol”.. ucapku dengan semangat.

Mengangguk...

Lalu berjalanlah aku ditemani 2 mutiara kecil itu menelusuri jalanan Panorama menuju kosanku,

“Masih sekolah de?” tanyaku sambil merangkul bahu salah satu mutiara kecil itu, sedang mutiara kecil yang satunya berjalan di belakang kami.

“masih teh..”

“kelas berapa?”

“kelas 4 SD”

“Oiya, kalian saudara?”

“iya, dia adik saya” ucap mutiara kecil itu sambil menunjuk ke arah belakang.

“Eh, nama kalian siapa?” tanyaku sambil merangkul mutiara kecil yang dibelakang.

“nama saya Anjas, dan adik saya namanya Rizki kelas 2 SD teh..”

“Oooo....” – “Kalian kurulilingan (baca : kelilingan ‘basa sunda’) nyari botol kaya gini sampai jam berapa?”

“sampai jam 1 teh, kadang sampai jam 2 juga”
 bukan gambar sebenarnya

Deggg.... hatiku pun langsung merunduk malu... jam segitu, aku sedang asik di kamar, sedang tidur di atas kasur yang empuk, di bawah selimut yang tebal, dihiasi oleh kegelapan lampu kamar yang selalu aku matikan dan ditemani oleh mimpi-mimpi indah.. Malu sangat ya Allah,, anak-anak kecil yang tak berdosa, yang belum tau beban hidup, di saat mereka harus istirahat mempersiapkan fisik dan kondisi untuk sekolah di keesokan harinya, mereka harus menyelusuri jalanan, eh salah...menyelusuri tong sampah satu ke tong sampah lainnya untuk mengumpulkan gelas minuman, botol, dan plastik-plastik bekas untuk diberikan ke ayah mereka yang selanjutnya untuk dijual dimana satu kilogram dari plastik-plastik itu dihargai 1000, bayangkan..!!! plastik itu beratnya berapa? Satu kilogram itu sebanyak apa? Dan harus mencari kemana mereka? Selama apa mereka harus menyelusuri jalanan? Pantas saja kalau mereka bilang, pulang ke rumah biasanya jam 1 kadang jam 2 dini hari. Ya Allah, hatiku pun tertegun dan mataku menahan air mata melihat perjuangan mutiara-mutiara kecil ini.

Sesampai di kosanku, aku yang seorang kolektor botol (sebut saja begitu, karena sebelum aku beli galon aku beli minuman mineral botol yang 1500 liter dan botolnya selalu aku kumpulkan), aku memiliki 2 kresek gedhe dan isinya botol semua. Lalu aku bawa botol-botol itu keluar dan aku serahkan kepada mereka yang menungguku di teras kosan. Lalu sebagai gantinya, aku minta mereka menemaniku untuk beberapa menit, jam malah.. 2 jam kalo ga salah. Mereka pun menurut begitu saja (aneh ya, ko mereka ga takut aku bohongi, misalkan ketika mereka menunggu di depan kosan, dan aku ga keluar lagi, hehehe  subhanallah yaa, pastinya Allah yang menggerakkan hati mereka untuk mempercayai orang yang baru mereka kenal).

Lalu aku pun meminta mereka menunggu ku di teras depan kosan, dan aku pun pergi meninggalkan mereka untuk pesan nasi goreng (maklum uda laper banget sejak pulang dari coaching, hehe). Ketika aku kembali, mereka masih duduk manis menungguku. Lalu aku ajak mereka ngobrol, mulai dari keluarga mereka, ibu mereka, adik, ayah dan pekerjaan orang tua mereka. Aku menanyai mereka tentang Allah, awalnya mereka menggeleng tidak tau siapa itu Allah, dan aku perlahan memberikan gambaran kepada mereka tentang Allah.
Aku sedikit menjelaskan sih, aku hanya melempar pertanyaan yang akhirnya mereka menjawab sendiri atas pertanyaan yang mereka ajukan.

“Adik-adik tau ga? Yang menciptakan kita itu siapa?”

Mereka menjawab “Allah..”

“Kalau Kucing?” – “Allah” – “Pohon?” – “Allah” – “Kalo rumah?” – “Bapak....” hehehehe.... pertanyaan pertama aku tutup dengan tertawa, (Ooops, mereka tidak ikut tertawa karena jawaban “bapak” menurut mereka adalah jawaban yang benar, tapi aku ngakak geli.. iya jawaban mereka memang benar, hanya saja ekspresi polos mereka masih membuatku tersenyum sendiri ketika mengingatnya, hihihiiiii)

Lalu aku mulai menanyai mereka tentang Sholat,

“Hayooo,, kalian suka sholat ga?” tanyaku dengan melempar senyum ke mereka. Saat mendengar pertanyaanku, sang kakak (Anjas) hanya bisa diam saja, sedangkan adiknya (Rizki) dengan polos menjawab “Tidak...”, lalu aku pun tersenyum kepada mereka.

“Bisa sholat tidak?”, dan mereka menjawabku dengan gelengan kepala.

“Papa ga pernah sholat teh” ucap Anjas padaku.

Sambil tak mengurangi senyum, aku pun memutar balik otak mencari jawaban yang pas. Lalu aku mencari metafora (perbandingan yang logis) supaya mereka menangkap apa yang aku maksudkan.

“Hhm... kan tadi yang menciptakan kita Allah ya... hewan, tumbuhan dan semuanya... coba Anjas dan Rizki menarik nafas dan menghembuskannya”, mereka pun mengikuti ucapanku sambil menarik dan menghembuskan nafas. “Nafas itu siapa yang ngasih?” tanyaku...

“Allah” jawab mereka. “Trus coba kalian tepuk tangan”, dan mereka pun bertepuk tangan. “Kalian bisa bergerak itu siapa yang ngasih?” – “Allah”, jawab mereka – “Nah, Allah itu baik banget kan?” hehehe... dan mereka pun mengangguk. “Mau ga kalian melakukan yang Allah suka?” tanyaku pada mereka, dan untuk kesekian kalinya mereka mengangguk.

“Allah itu suka orang yang sholat lho, mau ga teteh ajarin sholat?” dan dengan wajah antusias mereka mengangguk dan berucap “Mau teh..”...

Terus aku melihat sandal mereka yang warnanya sudah melebur dengan warna tanah liat, aku pun langsung bertanya kepada mereka, “Hayooo.. kalian sehari mandi berapa kali? Allah suka orang yang mandi dan bersih lho..” dan mereka pun saling menatap. “3 kali teh” ucap si kecil Rizki, “Wah beneran?” hehe, setengah ga percaya, orang aku aja mandi sehari 2 kali, kadang malah cuman 1 kali, kwkwkk... *kebongkar deh, heu.

Lalu aku tanya ke mereka “Hayo, sandalnya ga pernah dicuci ya?” hehehe... ucapku sambil sedikit meledek dan becanda.. “Hehehe, iya teh” ucap Anjas, “Yang aku dicuci ko” ucap si kecil Rizki...

Dan aku pun teringat nasi goreng yang aku pesan, lalu aku pun mendatangi si bapak Nasi Goreng “ko lama” pikirku.. trus si bapak pun membantuku membawa 2 piring dan aku membawa 1 piring.

“Nih, adik-adik... dimakan ya” ucapku sambil melahap nasi goreng yang sudah di hadapanku. Senang rasanya malam itu, sejenak aku lupakan gemuruh hatiku dan aku nikmati saat-saat bersama 2 mutiara kecil itu. Kami makan bersama di teras depan kosan.

Trus tiba-tiba si kecil Rizki bilang “Teh, nyeri untu” (baca : sakit gigi ‘baca sunda’).... “Waduhh....” aku langsung kelabakan bingung mau ngapain, soalnya dulu pernah ngerasain sakit gigi dan ga mau lagi lagi.. hhehe. “Tunggu di sini ya, teteh ambilkan air minum”, dan aku pun langsung lari ke kamar untuk ngambilik mereka minum. Dan ketika aku memberikan satu gelas air mineral ke Rizki aku bilang, “Rizki, air gelas ini tadi uda didoain sama teteh, kata teteh gini ‘ya Allah, semoga air ini menjadi obat untuk Rizki, beri kesembuhan pada gigi Rizki ya Allah’” ucapku, hehe.. berbohong sih... tapi gapapa kan, kali aja dia percaya dan meyakini dan akhirnya sembuh beneran, heu... da mereka anak-anak baik ini, pasti disayang juga donk sama Allah, 

“Udah sembuh ki?” tanyaku – “belum teh” jawabnya – Waduh, gmana ini ya, hehe.. ga manjur...

“Teh, udah.. wareg” (baca : kenyang ‘basa sunda’), “Ooh, yasudah ga dihabiskan gapapa”.. ucapku ragu, waduh mubadzir donk.. tapi kalo dihabiskan bisi aku malah nyakitin mereka dengan sakit giginya, hhm....

“Hayoooo, kalian ga pernah sikat gigi ya?” tanyaku sambil senyum – “Engga teh” jawab Rizki dan Anjas.  “Oke, sebentar yaa...” aku pu meninggalkan mereka ke kamar lagi, berharap ada yang bisa aku berikan pada mereka, dan untungnya ada 1 pasta gigi dari madu yang pernah dibawain sama bunda tersayang, trus sikatnya? Hhm..beli deh. Nah, pas aku liat uang di dompet aku, kebetulan banget tinggal 24ooo dan itu cukup untuk membayar nasi goreng, hahahahaa... galau deh, mana anak-anak kosan pada ga ada (tadinya niatnya mau minjem uang mereka dulu, hho), trus aku ke bawah aja.. “De, tadinya teteh mau ngasih sikat dan pasta gigi, tapi adanya pasta gigi doank, kalo kalian nanti di rumah beli sikat gigi gimana? Tanyaku – “Ga punya uang teh” – “Waduh, galau juga”.. lalu untuk terus menyambung silaturahim, aku bilang ke mereka “yasudah, semoga nanti kita ketemu lagi ya, toh teteh udah tau alamat rumah kalian, nanti kalau teteh ada kesempatan atau kita ketemu lagi, teteh beliin sikat dan pasta gigi, Allah suka orang yang sikat gigi lho” ucapku, dan mereka tersenyum dan bilang “iya”.

 Lalu mereka pun beranjak pergi sambil aku mengembalikan piring nasi goreng, “Udah ya, salam ke keluarga kalian” ucapku. Si Anjas uda berlalu, dan si kecil Rizki mendekat padaku dan bilang “Salim teh..”. Wowww... deggggg... aku pun langsung mengerutkan kening dan menarik ujung bibirku, pengen nangis tapi malu, heu... dan karena kedua tanganku membawa 3 piring, akhirnya aku hanya memberikan satu jari kelingkingku untuk dia cium. Ya Allah, maafkan aku. Sungguh aku ingin tangan ini banyak dicium oleh anak-anak seperti mereka, sebuah ketenangan tersendiri yang aku rasakan ketika aku bisa bersentuhan tangan dengan mutiara-mutiara seperti mereka. Dan kulihat mereka berlalu.

Pelajaran apa yang bisa aku ambil??? Banyakkkk....

Sebuah rasa syukur tersendiri bagiku, aku yang sering sms mama supaya cepat dikirim bla bla bla, kalau engga kadang ngambek. Cemen banget sih aku ini. Coba lihat 2 mutiara yang barusan berlempar cerita denganku, mereka rela disuruh orang tua mereka untuk mencari botol, dan kembali ke rumah sekitar jam 1 atau 2 dini hari, mereka tiada keluh kesah sedikitpun.

Oiya, karena aku Muslimah Pemimpi, aku pun menanyai mimpi mereka. Luar Biasa, si Anjas pengen jadi Masinis kereta api dan adiknya Rizki pengen jadi pilot. Dan di akhir pertemuan bersama mereka, aku pun mengucapkan “Anjas, suatu saat teteh pengen lihat dan kenal seorang masinis hebat bernama Anjas. Dan Rizki, suatu saat ketika teteh punya pesawat atau helikopter, teteh pengen Rizki yang jadi pilotnya”, dan senyuman serta tatapan penuh semangat dan harapan mereka lemparkan ke hatiku, dan hatiku pun penuh dengan gemuruh harapan suatu saat mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Hikmah kedua, aku jadi berfikir bahwa mimpi besarku adalah Berbisnis.. Why? You know Why??

Pertama,
karena aku ingin melihat anak-anakku kelak segala kebutuhannya terpenuhi olehku dan suamiku, tanpa mereka harus membuka tangannya untuk menengadah, dan aku ingin mengajari mereka berbisnis sejak kecil, aku libatkan mereka di setiap aku berbisnis sehingga mereka tau sberapa menantangnya mencari penghasilan itu. Nah lhoe, jadi maunya gimana? Hehe. Mau anaknya kerja atau engga, tentunya kerja ga kudu dengan melukai tangan mulus mereka donk, iya kan? Hhm.. sudah aku siapkan maping untuk pendidikan anakku nanti, santaiii... hhehehe.

Trus kedua,
supaya aku bisa membuka lapangan pekerjaan untuk mereka yang memang tidak memiliki pekerjaan. Dan akan aku utamakan untuk orang-orang yang memang membutuhkan dan tidak ada yang bisa dilakukan selain di tempat kerjaku. Lalu bagaimana kalau mereka melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaannya? Tenang, sebelum mereka diterjunkan di Rumah Makan (Ooops, keceplosan, hehe)  mereka harus ditraining dulu.

Banyakkk banget yang ingin aku lakukan Suatu Saat Nanti.. dan akan aku cicil langkah kecil sejak sekarang. ;)
Salam ~Nice Muslimah

Merajut Ukhuwah dalam Dakwah Bernuansa Ilmiah

Sabtu, 19 November 2011 0 komentar

Pagi itu, mata masih bengkak akibat begadang semaleman untuk menyelesaikan video keluarga kami yang akan ditampilkan saat study banding ke keluarga tetangga. Hhm..mungkin pembaca masih bertanya-tanya, keluarga kami? keluarga tetangga? Siapakah itu...
Yaps, sedikit bercerita. Aku tergabung dalam sebuah komunitas Luar Biasa di sebuah kampus di kota Bandung, sebut saja Universitas Pendidikan Indonesia. Komunitas yang aku ikuti yaitu komunitas para pejuang Ekonomi Islam (UKM Study Community of Islamic Economics “SCIEmics”), dan pada saat itu kita sedang merencanakan untuk study banding ke komunitas pejuang Ekonomi Islam di kampus Tazkia Bogor (kampus milik seorang penulis ternama Syafi’i Antonio “Siapa yang gak kenal cung..!!”). selain study banding kami juga ada rencana untuk upgrading pengurus di Kebun Raya Bogor.
Pagi itu dengan disibukkan berbagai aktivitas, menyelesaikan video, nyuci piring, beberes kosan, nyetrika, packing dan lain sebagainya...rencana berangkat dari kosan jam 06.00 akhirnya ngaret sampai jam 06.30 baru sampai UPI. Pagi itu sangat luar biasa bagiku, sangat terburu-buru dan deg-degan...sangat berbeda ketika aku telat masuk kuliah, “Ahh..gapapalah.. kuliah ini” hehehe.. aku berangkat terburu-buru, dan di tengah perjalanan aku mendapat sms dari Qanita (sahabatku) “Ukh, nitip beliin sarapan”, katanya. “Wah, sudah jam segini..” pikirku.. lalu sambil menelusuri jalan, aku pun terhenti di sebuah gerobak bubur ayam dan memesan 2 bungkus bubur ayam.
Dengan lari tunggang langgang, langkah sesereotan akhirnya aku pun sampai di masjid Alfurqon tempat kami kumpul sebelum keberangkatan. Di sana semuanya sudah kumpul kecuali satu orang, Qanita. Ada Aris (chairman SCIEmics), Haris, Helmy, Hilmi, Riki, Halim, Khairul, Ikhsan, Randi, Gaffar, Ika, Dewi, Sona, Aulia, Nyanya, dan Kumita. Kita ber-18 perjalanan ke Bogor dengan 2 mobil, mobil milik Helmy dan Riki. Rencana keberangkatan jam setengah 7 akhirnya kami berangkat sekitar jam 8 J. Mobil pertama diisi oleh “Para Pejabat SCIEmics” kami menyebutnya, ada Aris (chairman), Haris (Manager Bisnis), Sona (Manager HRD), Qanita (Manager SA), aku (Manager PR), Kumita, Randi, dengan driver Hilmi dan Riki bergantian. Mobil yang kita tumpangi yaitu Kijang. Lalu di mobil Helmy ada Helmy, Halim, Dewi, Ika, Aulia, Nyanya, Gaffar, Khairul dan Ikhsan. Mobil yang mereka tumpangi Daihatsu Terios.
Perjalanan seru, rame dan bikin gregetan. Dengan mobil berkapasitas 7 orang harus kita tumpangi 9 orang plus barang-barang kita. Asik dah, desek-desekan 2 orang di depan, akhwat berempat di tengah dan 3 ikhwan plus tas-tas gedhe di belakang.
Perjalanan dimulai,,,
Deg-degan nih pas mau mulai nulis perjalanannya, soalnya takut ada yang kelewatan dan dalam perjalanan kami gak ada yang boleh terlewatkan.. Hhm... >.<

Kami memulai perjalanan jam 8 dari UPI, sebelum berjalan jauh kami beli bensin dulu di Pom Bensin Setiabudhi. Ditemani tawa riang dan lagu-lagu Korea, lagu Maherzain, lagu Pop Indonesia bahkan dendangan lagu Sunda yang dinyanyikan Chairman kami Aris Rizal Gozali,dkk. Banyak bercerita, canda tawa dan kejadian luar biasa yang kami alami. Masuk tol ******, huhhh..perjalanan yang hebat ditemani udara sejuk sepanjang jalanan tol. Setelah keluar tol dan masuk daerah Cawang, macett hebat. Mobil rombongan Helmy sudah berjalan jauuuhh dan rombongan kami pun tertinggal dan terjepit di tengah kemacetan jalan Cawang. Saat grrrrrrr,, mobil dinyalakan ternyata tidak bisa “Waduh.....” pikirku dalam hati “macetttt”....sedangkan mobil-mobil di belakang kami sudah meneriaki “Woi Woooiii, cepet...”.. merinding banget saat itu, aku sudah membayangkan “Gimana kalau sopir-sopir mobil di belakang kami turun dan mengeroyok kami.. Tidakkk..” kepanikan dalam hatiku saat itu. Lalu sesegera mungkin para ikhwan yang duduk di belakang turun, yaitu Haris, Aris dan Randi. Mereka mendorong mobil kami dibantu sama bapak-bapak yang ada di sekitar. “Dugg... alamat bakalan lama nih..” ucapku pada teman-teman akhwat.
Baru kali itu tuh aku melihat para pejabat UKM ngedorong mobil, para ketua lagi. Si Haris selain menjadi manager Bisnis dia juga seorang Ketua Himpunan Prodi Manajemen (hahaha,, akhirnya para ketua dikerjain juga sama Allah, pekikku dan teman-teman akhwat, hehehe). Dan ternyata radiator mobil Riki kering, butuh dikasih minum. Setelah dikasih air langsung sembuh, Luar Biasa bukan?? Hikmahnya bisa kita lihat dari berbagai sudut, dari si mobil..ternyata air tidak hanya dibutuhkan oleh makhluk hidup saja, right?? Jadi kita gak boleh buang-buang air secara mubadzir.. Setelah dikasih minum, perjalanan kami lanjutkan.. kami sangat menikmati perjalanan Luar Biasa ini. Perjalanan penuh hikmah dan perubahan bagiku. Komunikasi antara aku dan pihak-pihak yang akan kami kunjungi pun terus bersambung tanpa putus, lalu di tengah jalan aku dapat telfon dari pihak IPB Bogor (salah satu kampus yang akan kami kunjungi). Dan mereka memberitahukan kabar yang Luar Biasa bagi kami, “Maaf Mba, pengurus kami sedang tidak siap menerima undangan, para pengurus sedang ke luar kota, jadi mungkin kita bisa bersilaturahim lain waktu”... “deggg” jantungku saat itu tiba-tiba berdetak cepat tanda reaksi pikiran yang berputar cepat pula “Bagaimana aku harus memberitahu anggota keluargaku SCIEmics yang lain? Mereka pasti akan kecewa..” pikirku saat itu, dan otakku mulai berputar balik untuk menyusun kata-kata yang tepat supaya mereka tidak menyalahkan IPB maupun menyalahkan aku, hhehe J, dengan diawali kata maaf dan aku mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya dan aku menyadari mungkin itu juga karena kelalaianku yang kurang komunikasi dengan pihak IPB. Tapi tak apa, inilah desain Allah “hiburku dalam hati”, bukannya Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya, yaa mungkin ini yang terbaik untuk kami. Dan alhamdulillah respon sahabat-sahabat SCIEmics juga tidak seburuk yang aku bayangkan. Hikmahnya, Allah telah menyembunyikan berbagai rahasia di balik takdir-Nya, aku yakin kejadian “batalnya kunjungan ke IPB” ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi memang sudah diatur sama Allah. Allah kan Maha Tahu sedangkan kita Maha Sok Tahu biasanya, hehe. Jadi aku dan sahabat-sahabat pun merasa enjoy aja meskipun agenda kita yang satu itu harus dibatalkan.
Lalu kami mampir ke rest area, di sana udara cukup panas menyengat kulit, sangat jauh berbeda dengan udara di Bandung. Lalu di sana kami pun mulai berdiskusi “Jadi sekarang kita harus bagaimana? Kunjungan ke Tazkia ba’da dzuhur nih?”.. Hhm, lalu ada salah satu teman kami yang mengusulkan, “Yasudah gapapa, kita tetap ke IPB, itung-itung biar kita tau kampusnya bapak Jamil Azzaini dan kang Danang”... dan akhirnya kami pun jadi ke kampus IPB. Perjalanan yang Luar Biasa, udara panas menyengat, keringat bercucuran, kulit muka mengkilap dan lengket, perjalanan di jalan Dramaga (menuju IPB) macett..kaca mobil sudah terbuka seratus persen, lalu kami tengok mobil sebelah (Helmy dan rombongan, mereka tenang, tentram di dalam mobil dengan kaca tertutup).. Hehehe, J
Sesampai kami di kampus IPB, kami langsung melaksanakan sholat dzuhur di masjid dan dilanjutkan makan siang di kantin kampus IPB.. “Kebersamaan yang Luar Biasa” pikirku.. Kita makan bersama sebelum melanjutkan perjalanan ke kampus Tazkia. Sekitar jam 13 siang, kami pun berangkat menuju kampus Tazkia. Kali ini mobil disetir oleh Riki. Dan perjalanan kali ini sangat macet total (hho, lebay ya...) tapi memang saat itu benar-benar macet. Udara panas, pengap, macett.. sehingga emosi orang-orang pun juga ikut panas, pun mobil mereka yang sedang macet juga merasakan kepanasan sehingga banyak mobil mogok di tengah-tengah kemacetan yang membawa kepanasan ini. Sampai-sampai pintu belakang mobil Riki dibuka karena gak tahan panas kata para ikhwan. Hal yang sangat konyol bagiku, yaitu ketika Hilmi meminjam kipas milik Qanita, dan karena pintu belakang terbuka sehingga kipaspun tersenggol, jatuh dan terlindas di bawah ban mobil yang ada di belakang kami. Dengan muka polos dan tanpa dosa, si Hilmi pun meminta mobil di belakang kami untuk mundur supaya dia bisa mengambil kipas itu, rombongan kami pun ketawa melihat kejadian itu. Lalu, di tengah kemacetan itu juga, Qanita ingin ke kamar mandi “Waduhh..” pikir kami, dan untung di sebelah kanan jalan ada rumah makan, sehingga ia mampir ke rumah makan terlebih dahulu dan kami menunggu di dalam mobil. Lalu Hilmi dan Haris pun ikut turun mobil nyusul Qanita, lalu disertai Randi, sehingga yang ada di dalam mobil tinggal Riki, Aris, Sona, Kumita dan Aku.
Mobil pun maju 1 meter, 1 meter dan begitu seterusnya. Sehingga ke meter berikutnya tiba2 mobil mati dan tak bernafas sedikit pun “Hahh” pikir kami. Lalu dengan muka panik Riki bilang “Kang Aris, kunci mobilnya patah..”..”Tidakkkk...” pekik kami dalam hati, dan lagi-lagi kami harus diteriakin oleh mobil-mobil di belakang kami “Woi..Woi... Cepat cepat....”.. Aduhh, mana ikhwannya tinggal Aris dan Riki.. kalau Riki nyetir berarti Aris ngedorong mobil sendirian.. lalu mendengar teriakan orang-orang itu, akhirnya Hilmi, Haris dan Randi langsung lari pontang-panting ke arah kami dan membantu mendorong mobil ke pinggir jalan.
“Trus gimana ya?” kami pun bertanya satu sama lain.. grrrrr....tiba-tiba mobil bisa dinyalakan.. “Loh...” dengan muka kaget kami melihat ke arah lobang kunci.. “Alhamdulillah bisa kang..teh...” ucap Riki. Dan tak tau sudah kemanakah rombongan Helmy dkk. Lalu dengan pelan-pelan dan masih diliputi perasaan was-was kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang diestimasikan hanya sekitar 1 jam, kini ngaret menjadi 2 jam. Dan sampai di kampus Tazkia sekitar jam 15.00 (ngaret 1 jam dari planning awal). Sesampai di sana kami disambut dengan Luar Biasa oleh pihak Tazkia, kami diberi bunga mawar dan konsumsi oleh mereka, Luar Biasa bukan? Kami dengan muka mengkilat dan lengket disambut baik oleh orang-orang dengan jas rapih dan kelihatan bersih “Malu sih, tapi inilah uniknya kita.. hhehe”.
Acara di sana sangat Luar Biasa, dimulai dari sambutan-sambutan dilanjutkan dengan presentasi program kerja stiap departemen di KSEI masing-masing. Tanpa persiapan dan tanpa catatan kami para manager maju dan menyampaikan executive summary departemen kami. Alhamdulillah sambutan dan respon temen-temen Tazkia juga luar biasa. Di sana kami sempat bertemu dengan bapak Syafi’i Antonio tapi kami tak sempat berjabat tangan maupun ngobrol sama beliau, cukup melihat dari jarak jauh saja. Acara kami selesai pukul 7 malam, ngaret 2 jam dari rencana awal. Dan seberes itu pun kami langsung beranjak ke kediaman Ika untuk istirahat dan menginap. Sesampai di rumah Ika pun kami disambut baik oleh keluarganya, tempat sudah disediakan dan makan malam pun juga sudah tersedia. Sampai di rumah Ika kita langsung bebersih mandi, sholat dan sharing (antar akhwat), sedangkan para ikhwan nonton bola di ruang tengah.
Pagi harinya setelah sarapan pagi dan berpamitan dengan keluarga Ika, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Kebun Raya Bogor sebelum akhirnya kami pulang ke Bandung. Di kebun raya Bogor, kami melakukan banyak games. Mulai dari tebak gambar, kucing-kucingan, beteng-betengan dan lain sebagainya... Aku sangat merasa bahagia dan puas kala itu, aku bahagia karena itulah kali pertamanya aku bisa tertawa lepas bersama keluarga SCIEmics. Tidak ada sikap jaim alias JagaImage, yang ada kita satu keluarga dan sudah tidak ada yang ditutup-tutupi. Setelah games acara dilanjut dengan sholat, makan dan sharing. Kami banyak sharing tentang SCIEmics ke depannya, khususnya pada kepengurusan adik tingkat kami. Bukannya sebuah organisasi akan dibilang sukses jika kepengurusan setelahnya menjadi maju dan sukses. Di sana kami saling memberikan motivasi dan masukan-masukan. Saling berbagi, bercerita, canda tawa. Seberes makan, kami pun prepare untuk segera pulang karena jam telah menunjukkan pukul 17.03. Berjalan sepanjang kurang lebih 400m menuju tempat parkiran Botani Square.
Selesai dari sana, kami langsung melanjutkan perjalanan pulang. Dengan rombongan yang sama saat kami berangkat. Di sepanjang perjalanan, mungkin karena perasaan lelah sudah menyelimuti sehingga di mobil terasa hening dan akhirnya semuanya tertidur kecuali pak Sopir (Hilmi) dan Riki yang di depan menemani Hilmi. Perjalanan saat itu macet sekali. Pas bangun, tiba-tiba kami sudah di rest area yang dulu juga pernah disinggahi rombongan SCIEmics yang pergi Temu Ilmiah Nasional di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Cukup menghilangkan lelah, kami sholat maghrib dan istirahat sebentar di sana. Setelah seluruh rombongan kembali, kami melanjutkan perjalanan dan sekalian membeli bensin di pom rest area. Saat itu rombongan Helmy di depan, setelah mereka selesai mengisi bensin lalu giliran kami. Dan Srttt...ckckckkck, terdengar obrolan-obrolan di luar mobil, ketika ditengok ternyata tutup tangki mobil gak bisa dibuka “Lah....kok bisa??” pikirku saat itu. Lalu aku pun ikut turun dan melihat tutup tangki mobil memang sudah terbuka, tapi ada cantelan satunya yang masih nyangkut di lobang tangki. Dari mulai petugas pom satu per satu bergantian, lalu kami satu per satu juga bergantian, namun tangki tetap tidak bisa dibuka. Akhirnya kami pasrah dan mencoba mencari tempat yang terang untuk terus mencoba membuka tutup tangki. Di depan, di sebelah baligho besar ada sebuah mobil Daihatsu Terios yang sedang menunggu kedatangan kami. Lalu mobil diparkir di depan baligho, dan kami pun mulai mencoba membuka lagi. Sekitar 2 jam kami terus berusaha tanpa henti untuk membuka tutup tangki tersebut. “Luar Biasa desain Allah.”ucapku pada diri sendiri. Dari awal penuh hikmah, mulai dari radiator mobil kering, kunci patah dan sekarang tutup tangki gak bisa dibuka..Hhm..sungguh indah sebuah perjalanan ini, berbeda jika misalkan dari awal tidak ada masalah, maka perjalanan akan terasa hambar dan biasa-biasa saja. Di pukul 21.14 kami pun pasrah dan yakin untuk melanjutkan perjalanan dengan berharap semoga si mobil tidak kehabisan bensin di tengah jalan. Dan dengan izin Allah, akhirnya kita sampai di daerah Gerlong tepat pukul 22.10, rencana sampai rumah pukul 18.00 atau 19.00, ternyata ngaret 3 jam.
Itulah perjalanan kami saat itu, perjalanan luar biasa, penuh makna dan penuh suka cita. Dan sebuah ungkapan yang pernah aku dengar,
Sebuah ukhuwah akan terasa erat dan saling memiliki jika mereka pernah mengalami,
1.        Perjalanan selama minimal 1 hari bersama-sama
2.       Pernah menginap di satu tempat dengan tujuan yang sama
3.       Pernah makan bersama
Dari perjalanan bersama, kami bisa belajar memahami dan mengerti satu sama lain. “Ooh, ternyata si dia begini toh, ooh..ternyata dia lucu ya... ooh...ternyata dia jail ya...” dan tidak akan ada lagi sesuatu yang tersembunyi diantara persahabatan itu. Aku senang sekali saat itu, sekaligus merasa sangat sedih, kenapa? Karena tinggal satu bulan lagi kepengurusanku akan lengser, sedangkan baru kali ini aku merasa satu keluarga dengan mereka. Jika mau menyesal, “Kenapa program kerja study banding ini tidak aku adakan sejak beberapa bulan yang lalu? Kenapa baru bulan ini aku mengadakan study banding ini”.. perasaan berkecamuk di dalam hati, namun satu hal yang membuatku tenang dan yakin. “Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, aku lengser bukan berarti aku tidak bisa bergabung lagi dengan mereka. Sekarang saatnya kamu mempersiapkan untuk berdiri tegak di kehidupan nyata, siapkan diri dan jadilah yang terbaik. Sungguh desain Allah amatlah Indah”. Merajut Ukhuwah dalam Dakwah Bernuansa Ilmiah. SCIEmicsUPI, Bisa..!!

 
Muslimah Negarawan © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum