• Muslimah Sholehah

    Jika wanita cantik itu ibarat bintang-bintang langit, wanita yang tahajud di sepertiga malam tentulah yang paling bersinar di gemerlapan

  • Tsukuba University

    in Tokyo.

  • Rumah Pelangi

    Kita berwarna dan dengan keimanan kita ingin mewarnai lingkaran sekitar

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di depan Aula kampus UIN Suska

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di Kerajaan Siak Riau

Tampilkan postingan dengan label artikel pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel pilihan. Tampilkan semua postingan

Tangan Ghaib itu Sangat Dekat

Minggu, 28 Oktober 2012 0 komentar

*Tangan Ghaib itu sebenarnya sangatlah dekat...
1. berawal dari mimpi dan dikuatkan dgn ikhtiar dan doa ...

2. Dulu Risa di SMA ngambil jurusan bahasa, cinta sastra bgt lah .. tp waktu itu risa keterima di salah satu univ negri di jur.Sastra Inggris .. dan satu lg di UPI jur.Pend Manajemen Bisnis.

3. Trus akhirnya sama Bunda dsuruh milih yg di Upi. Bayangin .. orang yg kerjaannya nulis novel, cerpen, diary [haha] dterima di ekonomi yg kerjaannya ngitung duit yg kgak nyata ... mana di upi yg ga tau dimanakah itu..yg risa tau Upi itu ya di Jkarta ...

4. Univ.Pendidikan Indonesia (tetangganya UI, mikirnya gitu, haha).. dan trnyata Upi itu di Bdg .. ga punya saudara, keluarga, orang yg dikenal pun kgak ada.

5. Tp Man Jadda Wa Jadda, apapun yg trjadi "Penting Jalan Dulu" kata Bunda, dan Maha Benar Allah bersama Kasih SayangNya, risa sampai di bumi pendidikan yg mmberikan penuh cinta dan keluarga untuk risa :)

6. Dan perjalanan panjang itu berakhir ktika risa dapet kosan ukuran 3x4 meter,, Perjuangan pun dimulai.!! ;) Berjuang tanpa sanak saudara, grubak grubuk pusing sendiri ngurusin persiapan Ospek, mau minta tlong ksiapa coba, ayah-bunda di pulau sebrang. Masak mau teriak2 “Bundaaaa.. buatin alas duduk, buatin nametag, buatiin buatiin ...” yaa kagak mungkin lah yaa... Jadi aja Man Jadda Wa Jadda sendiri kala itu. :)

7. In other Moment. Acara Sharia Academic Training nya SCIEmics thn 2010 lalu, H-7 pserta baru 100an, dan target min.300 orang ... next, H-4 pemateri utama kita mengcancel krn miss komunikasi sama manajemennya, ia ga nyatet kalau kita sdh ngbooking dluan [istilahna mah] jadi aja pematerinya lari duluan ke palembang, GAGAL ..

8. Ikhtiar dan doa trus dlantunkan .. sehingga akhirnya kita dpet pmateri yg ga kalah luar biasa, seseorang yg insyaAllah akan mnjadi presiden Indo 4-8-12 tahun yg akan datang [aamiin, hehe] .. Dan you know brp pserta yg daftar waktu itu, yaitu mencapai 325 peserta. Sungguh Maha Kuasa Allah yg Menggerakkan Hati para Mahasiswa Baru kala itu.

9. Trus lg waktu mau ke Temilnas Riau Maret kemarin, uang dr kampus blm cair, dan itulah satu2nya sumber pndapatan kami [maklum, pngennya ngbantu kampus buat sedekah ke kita, hehe], kita ngirim dua tim..tp mlihat keadaan keuangan yg ga karuan serettt akhirnya trlintas pikiran di ketua KSEI kmi, "Satu saja yg berangkat" .. sediiih bgt kala itu ..

10. Lalu kita saling menguatkan. "Ayooo buang jauh2 kekhawatiran dan negative solution ... ketika sudah yakin, maka yakinlah ... dan tunggu keajaiban dariNya.. Dan kita pun nekad berangkat itu pake iuran, ada yg ngasih 300-500-1juta/lebih ... dapet deh tuh duitt, dan kita bisa berangkat dgn ga mikirin gmana ngbayar duitnya nanti... spulang dr Riau kita brusaha breng2 mmbayarnya ... dan benar, ketika berangkat uang cair, shg bisa mnggantikan uang kita2 yg kepake ...

11. Trus yang Munas FoSSEI Juli kemarin ,, perasaan was was dan deg degan selalu membayangi setiap langkah panitia, di satu sisi panitia ingin memberikan yg terbaik untuk para peserta, tapi di sisi lain Allah selalu menguji hamba yang ingin menang di jalanNya ... malam terakhir, di PKM lantai 1 [tepatnya di depan sekre kita skrang yg waktu itu masih hak orang lain, hehe ... *GodSign] tangis menangis menjadi deru di dalam hati panitia .. Yg mmbuat risa salut, kala itu tak ada kata kalah dan menyerah di dalam hati panitia, yang ada *Bagaimana caranya kita menjamu tamu dgn keistimewaan :) hutang sana hutang sini .. sampai belasan juta ... (Ga kebayang gmana bayarnya .. bakal jadi hutang 7 turunan nih mikirnya, haha)..

12. Dan berkat cintaNya ,, para panitia mencairkan amal kebaikan yg mereka lakukan sebelumnya *pada saat yg tepat* .. yg dulu lari kesana kemari nyari sponsor ga ada hasil.. naik motor ke Jakarta ke Dikti demi mencari selembar pemasukan tapi blm mmbuahkan hasil pula.. yg uda mngeluarkan ratusan bahkan jutaan untuk ngeprint proposal sponsorship tapi ga ada hasil jg... maka mereka cairkan amalan itu pas *Just In Time ... akhirnya keikhlasan itu terbayarkan, cair di sana di sini ... dan yg terakhir, Hutang ke pengurus belum lunas .. semua berupaya Danus jualan baju tak terpakai di gasibu .. dan *Just in time lagi, cair dari lembaga di Jakarta yang dulu pernah dibela2in adik2 kesana naik motor boncengan. :) Subhanallah, Kita berupaya di sini tapi cairnya di sana, Allah memang Kaya dengan Episode HikmahNya.. kalau tau bakal cair pastilah kita ga akan repot panas2 ngedanus, tapi kalau ga repot2 ngedanus kita ga akan dapet ukhuwah yg dalem. kita ga akan tau arti susahnya mencari uang. Tuh kan, malahan banyak yg kita dapatkan, ga hanya selembar dua lembar uang, tapi pelajaran kehidupan itulah yg paling mahal. Semangatt terus adik2ku.

Hikmahnya,
1. Allah itu Maha Kaya dan Pemurah.. sederhananya mah tinggal bersin aja maka uang sgudang bisa parkir di depan mata kita.. Ga usah khawatir sama janji Allah, selama itu kebaikan, maka Allah tdk akan mninggalkan kita. orang pencuri aja masih ada yg ditolong dan diselamatkan oleh Allah, pdhal jelas mencuri itu DOSA...dan di dunia timur sana hukumnya *Potong tangan, apalagi kita yg benar nglakuin itu karena Allah dan untuk Allah.

2. Terus yakin dan Positive Thinking and Feeling. Ingat, ketika kita punya mimpi dan harapan , terusss kejar tuh impian .. jangan biarkan pikiran negative merasuk meski cuman slintas dan slewat .. Ketika yg masuk adalah "Gue ga akan bisa", maka usaha akan berhenti di situ.. tapi jika "Bisa Ga Bisa Gue InsyaAllah Bisa" maka mau ga mau jalan bakalan kebuka sendiri. So, teruss yakin dan kejar trusss.... Allah itu mudah bgt ngasih jalan.
Mngulas cerita yang ke Riau, jikalau kala itu kita mutusin, yauda 1 aja yg berangkat .. yaa udah, ketutup semua sumber rezeki ,, padahal ga ada yg tau, mungkin tinggal satu tetes keringat lagi kita dapet apa yg kita inginkan, tp karena kita bilang "udahan", yaudah .... hilang ..

3. tapii enggak saat itu, kita mutusin tetep berangkat 2 tim + 1 pendamping + 1 peserta karya tulis ... maka kebukalah smua sumber rezeki .. dapet deh tuh duit, dapet deh tuh hasil dari satu tetes keringat ... :)

4. ini juga berlaku untuk setiap titik kehidupan, yakin dan yakin pada harapan kita, halau hal perihal yang mendatangkan kepesimisan, ketika terlintas sesuatu yang “kayaknya ini negative” langsung cari penangkalnya.. cari orang-orang yang positive dan banyak ngobrol sama mereka, dapetkan apa yang kamu cari yaitu sumber kePositifan.. 

So ... Yuu Mariii kita terus yakin dan saling meyakinkan bahwa Allah itu akan membersamai kita dimanapun dan kapanpun *SELAMA kita membersamaiNya pula . :) Bawa Allah disetiap langkah dan masalah, maka *Tangan Ghaib Allah akan datang pun tanpa kita minta. Bismillah :)Berbagi=Mengingatkan Diri Sendiri .. Semoga Allah selalu bersama kita .. aamiin ..

Kekasih Rasul : Umar bin Khattab

Sabtu, 29 September 2012 0 komentar


Khalifah Umar Bin Khatab : Pemimpin Yang Penuh Tanggung Jawab*)
(untuk diteladani)
Sumber bacaan utama : Download Internet "penjaga kebun hikmah, 12 Pebruari 2006 dan 08 September 2006"

Pendahuluan
Khalifah Umar pernah didatangi putranya saat dia berada di tempat kerjanya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi di rumah. Seketika itu Umar mematikan lampu ruangan dan si anak bertanya, sebab apa ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap, dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa lampu yang kita gunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintahan bukan urusan keluarga.

Umar Bin Khatab adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (± tahun keenam sesudah Muhammad Saw diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat-nya. Pada jaman kekhalifahannya, Islam berkembang luas dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur ditaklukkan dalam waktu hanya satu tahun.

Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah AI Munawarah Beliau adalah salah satu dari Sahabat Rasulullah Saw. Yang Ahli Surga, hal ini sebagaimana dalam bukunya Bey Arifin, Samudera Al-Fatihah yang diterbitkan pada tahun 1965, mengenai 10 orang sahabat terdekat Rasul sekaligus yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam). Serta dapat disimak Al-Qur'an (Surat At-T aubah ayat ke-100) ± maknanya : "Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalprnnya selama-Iamanya. Itulah kemenangan yang agung".

Sebutan "Al Faruq", atau Sang Pembeda, adalah gelar yang diberikan Rasulullah Nabi Muhammad Saw untuk Umar bin Khattab. Konon, Umar dikaruniai tubuh yang tinggi dan besar, bahkan untuk ukuran orang Arab sekalipun. Kalau ditengah-tengah keramaian, maka sangat gampang mencari Umar karena pundak sampai kepalanya tersembul di antara orang-orang sekitarnya. Tidak hanya itu, Umar memiliki tenaga yang kuat yang menurut riwayat sama dengan kekuatan 20 orang dewasa saat itu. Umar adalah langganan juara gulat di semacam pasar malam yang ada dan merupakan tradisi di Mekkah saat itu. Khattab mendidik Umar dengan keras, tegas, dan disiplin. Pada masa itu hanya sedikit sekali yang bisa tulis-baca, dan Umar adalah salah satu dari yang sedikit itu. Umar mengetahui banyak sejarah Arab dan juga ilmu binatang. Umar pandai berbicara di depan orang banyak, dia dikaruniai suara yang berat dan berwibawa. Ini menggambarkan bahwa Umar adalah anak Quraish yang cerdas.

Saat awal-awal Rasulullah mulai menyebarkan Islam, Umar adalah penghalang yang paling dahsyat. Kaum muslimin saat itu menderita karenanya, di sisi lain kaum Quraish merasa sangat terbantu oleh kehadiran Umar. Oleh karena itulah, Rasulullah memilih untuk berdakwah dan beribadah diam-diam menghindari kezaliman Umar bin Khattab dan kaum kafir Quraish lainnya. Namun, Rasulullah atas petunjuk Allah mengetahui Umar lebih daripada yang lain. Rasulullah menyadari keistimewaan Umar, sebagaimana dia juga menyadari kelebihan "Amir bin Hisyam (Abu Jahal)" yang merupakan pemimpin kaum Quraish di Mekkah saat itu. Oleh sebab itu, Rasul pernah bermohon kepada Allah agar Dia sudi menolong perjuangan Islam dengan salah seorang yang lebih disukaiNya, antara dua "ain mim ra", yaitu Umar atau Amir. Doa Rasul akhirnya dijawab Allah. Begini ceritanya. Setelah Islam datang ke Umar dengan tidak secara langsung, melainkan lewat kerabat-kerabat dekatnya yang satu per satu "jatuh" ke agama Islam yang diridhoi Allah SWT (baca : di bawah).

Suatu ketika. Umar melihat Rasulullah sedang di dekal Ka'bah dan membaca beberapa ayat dari AI Quran. Umar mencuri-curi dengar dan dia pikir ayat-ayat yang dibacakan Rasullullah adalah puisi karya pujangga hebat Rasullullah mengulang-ulang ayal-ayat itu dan mengatakan bahwa ayat-ayat ini bukanlah puisi karya pujangga, melainkan perkataan Allah yang disampaikan melalui Malaikal Jibril. Umar terpana, dalam hatinya terbersit pemikiran mungkin saja apa yang disampaikan Muhammad Saw itu adalah benar. Umar mengabaikan perasaan itu dan memilih untuk konsultasi dengan para pemimpin Quraish. Diadakan rapat mendadak yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting suku Quraish. Keputusannya adalah penyebaran agama Islam harus dihentikan dan Muhammad harus dibunuh. Dicari sukarelawan yang bersedia dan mampu untuk itu. Umarpun mengajukan diri.
Suatu hari yang sangat panas tahun 616 Masehi, Umar menyandang pedang siap membunuh Rasulullah.

Dalam perjalanannya menuju rumah Rasul, Umar bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah, salah seorang teman akrab Umar. Nu'aim juga sudah menerima Islam saat itu, tapi Umar belum tahu. Nu'aim melihat wajah Umar yang tegang, diapun bertanya. Umar menjawab bahwa dia sedang menuju ke rumah Muhammad untuk membunuhnya. Nu'aimpun menjawab, ”Hati-hati. Kalau kamu sakiti Muhammad, maka kamu berurusan dengan keluarga Hashim. Kamu tanggung sendiri akibatnya!" Umar marah, ”Rupanya kamu juga sudah menjadi Muslim, ha !? Nu'aim menjawab, Umar, jangan pikirkan saya, tapi kamu pikir dulu adikmu dan adik iparmu dua-duanya sudah memeluk Islam, mungkin mereka sedang membaca Quran saat ini.' Umar kaget, diganti arah langkah kakinya yang semula ke rumah Muhammad Saw menjadi ke rumah Said bin Amir. Umar sangat sayang pada Fathima dan suaminya. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa adik kandungnya memeluk Islam. Dia tidak mau mempercayai berita ini, tapi ada keraguan dalam hatinya bahwa berita itu bohong.

Sesampainya di rumah Said, Said dan Fatima sedang membaca Al-Quran yang ditulis di daun-daun korma. Umar yang sudah ada di luar mendengar sayup-sayup sebelum akhirnya diketoknya pintu. 'Siapa?' tanya Said, 'Bukakan pintu, ini Umar!' teriak orang yang di luar. Said dan Fathima kaget dan ketakutan. Sementara Said membukan pintu, Fathima menyembunyikan daun-daun bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Umar masuk menyingkirkan Said. Fathima menyongsong dan tersenyum. Wajah Umar merah karena marah, dia bertanya dengan suara menggelegar: 'APA YANG SEDANG KALIAN BACA!' 'Tidak ada; balas Fathima. 'Saya dengar berita bahwa kalian sudah memeluk Islam, katakan bahwa berita ini bohong!' 'Apa pendapatmu, wahai Umar, sekiranya kebenaran itu ada di pihak mereka?' balas Said. Umar langsung mencengkram leher Said dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Fathima berkata, 'Lepaskan tanganmu dari suamiku. Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, katakan pada saya, tapi jangan sentuh suamikul" Umar bertanya, 'Katakan, apakah benar kalian sudah menjadi muslim?' Fathima menjawab, "Ya, kami sudah menjadi muslim. Kamu bisa saja membunuh kami jika kamu suka, tapi kami tidak akan mengganti keimanan kami.' Umar tertegun, kalimat yang sama didengar saat dia mengancam Lubna budaknya, keteguhan yang sama dia dengar dari saudara perempuannya. Dilepaskannya Said. "Kalau begitu , perlihatkan daun-daun yang kamu sembunyikan itu kepada saya sehingga saya bisa melihat isinya; pinta Umar. 'Tidak, badanmu kotor, mandilah terlebih dahulu; ujar Fathima. Entah kenapa, Umarpun menuruti. Selesai mandi, diterimanya daun-daun bertuliskan ayat-ayat Quran itu dari Fathima. Dibacanya keras-keras,

'Taa Haa, Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah) yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi (yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy. KepunyaaNyalah semua yang ada di langit dan di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.
Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi Dialah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia (Dia mempunyai namanama yang baik (asm,aul husna)

Dibaca surat itu berkali-kali sampai dia jatuh tersungkur. Dia merasa ayat-ayat itu ditujukan khusus untuk dia, dengan Taa Haa merujuk kepada seorang kafir Umar. Umar tiba-tiba merasakan ketakutannya pada Allah, hatinya berbisik 'Wahai Umar, sampai kapan kamu akan tetap mengingkari jalan yang kamu sendiri mengetahui kebenarnnya. Apakah belum datang waktu bagimu untuk melihat kebenaran?' Umar bangkit dan berkata kepada Said dan Fathima, 'Saya tadi datang sebagai musuh Islam. Sekarang saya akan pergi sebagai sahabat Islam. Pedang ini tadinya untuk membunuh Muhammad, sekarang saya sarungkan. Tunjukkan kepada saya, di mana Muhammad sekarang berada.
Saya hendak menemuinya: "Allahu Akbar: tangis Said dan Fathima. Umar bergegas melangkahkan kakinya ke rumah Arqam, seorang sahabat yang rumahnya sering dipakai Rasul untuk berkumpul dengan muslim yang lain. Umar mengetok pintu. "Siapa?' tanya seseorang dari dalam. "Umar bin Khattab; jawabnya dengan lantang. Orang-orang yang berkumpul di dalam heboh. "Umar datang... Umar datang..., apa yang akan terjadi gerangan?" Seseorang mengintip keluar, dilihatnya Umar dengan pedang tersandang dipinggangnya. Dia pun enggan membuka pintu. Hamzah, paman Muhammad SAW, berkata, 'Bukakan pintu; jika dia datang dengan maksud baik, kita terima. Kalau dia ingin membuat huru-hara, saya percaya kita bisa mengalahkannya bersama-sama: Pintu dibuka, Umar masuk. "Hai Umar, apa perkara yang membawamu ke sini?' tanya Hamzah. Para muslim yang lain bersiap-siap mencbut pedang kalau Umar tiba-tiba membuat keonaran.
Mendengar keributan, Rasulullah keluar dari biliknya dan berkala, 'Jangan ganggu dia, biarkan dia maju: Umar maju menghampiri Rasulullah dan Rasulullahpun bertanya, "Wahai Umar. sampai kapan kamu akan tetap mengingkari jalan yang kamu sendiri mengetahui kebenarnnya. Apakah belum datang waktu bagimu untuk melihat kebenaran?' "Benarlah waktu sudah datang bagi saya untuk melihat kebenaran. Saya datang ke sini untuk mengikrarkan keimananku dalam Islam, jawab Umar. Rasulullah mengenggam tangannya, Umar berkata dengan suara yang bergetar "Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusannya: Dan Umarpun menjadi orang keempat puluh yang masuk Islam. Kaum muslimin yang hadir dalam majelis saat itu heboh, Allahu Akbar bergema di setiap pojok ruangan. Satu per satu datang menghampiri Umar dan menyelamatinya. Kegembiraan tidak hanya dimiliki kaum muslim saja. Malaikat Jibril datang dan berkata pada Rasulullah, 'Oh Kekasih Allah, para penghuni sorga bergembira dengan kedatangan Umar dalam Islam dan mereka mengucapkan selamat kepadamu.
Sumber: penjaga kebun hikmah. Judul: Umar Sang Pembeda. Submitted by Buyung Sun, 2006-02-12 12:36.

Contoh-contoh kepemimpinan Umar bin Khatab
Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang sangat disayangi rakyatnya karena perhatian dan tanggungjawabnya yang sangat luar biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya adalah melakukan pengawasan langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan rakyatnya.

Beberapa kisahnya :
Suatu malam, Abdurrahman bin Auf dipanggil oleh Khalifah Umar diajak pergi ke pinggir kota Madinah. "Malam ini akan ada rombongan kafilah akan bermalam di pinggir kota" , kata Khalifah Umar kepada Abdurrahman bin Auf. "Lalu apa masalahnya?" tanya Abdurrahman. "Kafilah ini membawa barang dagangan yang banyak, maka kita sebaiknya ikut menjaga keselamatan barang dari gangguan tangantangan usi!. Jadi nanti mal am kita sarna-sarna harus mengawal mereka", sahut Khalifah. Abdurahman dengan senang hati membantu dan siap mengorbankan jiwa raganya menemani tugas khalifah yang ia cintai ini. Sedemikian sang khalifah menjalankan tugasnya, turun tangan langsung untuk memastikan rakyatnya tidur dan hidup dengan tenang. Bahkan malam itu khalifah Umar mendesak Abdurahman untuk tidur sambil siaga sementara ia sendiri tetap terjaga hingga pagi hari. Khalifah Umar bin Khattab memang dikenal sebagai pemimpin yang selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik secara diam-diam. Orang yang ditolongnya sering tidak tahu bahwa penolongnya adalah khalifah yang sangat mereka cintai.

Pernah suatu malam, Auza'iy 'memergoki' Khalifah Umar masuk rumah seseorang. Ketika keesokan harinya Auza'iy datang ke rumah itu, ternyata penghuninya seorang janda tua yang buta dan sedang menderita sakit. Janda itu mengatakan, bahwa tiap malam ada orang yang datang ke rumah mengirim makanan dan obat-obatan. Tetapi janda tua itu tidak pernah tahu siapa orang tersebut. Padahal orang yang mengunjunginya tiap malam tersebut tidak lain adalah khalifah yang sangat ia kagumi selama ini.

Suatu malam lain, ketika Khalifah Umar berjalan-jalan di pinggir kota, tiba-tiba mendengar rintihan seorang wanita dari dalam sebuah kemah yang lusuh. Ternyata yang merintih itu seorang wanita yang akan melahirkan. Di sampingnya, duduk suaminya yang nampak bingung. Maka pulanglah sang Khalifah dan mengajak isterinya "Ummu Kalsum" untuk menolong wanita yang akan melahirkan anak itu. Tetapi wanita yang ditolongnya itu pun tidak tahu bahwa orang yang menolong dirinya adalah Khalifah Umar, Amirul Mukminin yang mereka kagumi.

Kisah lainnya, ketika Khalifah sedang "ronda" mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh. Dari jendela ia mendengar, sang ibu sedang berusaha menenangkan anaknya. Rupanya anaknya menangis karena kelaparan, sementara sang ibu tidak memiliki apapun untuk dimasak malam itu. Sang ibupun berusaha menenangkan sang anak dengan berpura-pura merebus sesuatu yang tak lain adalah batu, agar anaknya tenang dan berharap anaknya tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan tanpa mengetahui kehadiran Khalifah Umar, sang ibupun bergumam mengenai betapa enaknya hidup khalifah negeri ini dibanding hidupnya yang serba susah. Khalifah Umar yang mendengar tidak dapat menahan tangisnya, iapun pergi saat itu juga meninggalkan rumah itu. Malam itu juga ia menuju ke gudang makanan yang ada di kota, dan mengambil sekarung bahan makanan untuk diberikan kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Bahkan ia sendiri yang memanggul karung makanan itu dan tidak mengizinkan seorang pegawainya yang menemaninya untuk membantunya. Ia sendiri pula yang memasak makanan itu, kemudian menemani keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur sang anak hingga tertidur sebelum ia pamit untuk pulang. Keluarga itu tidak pernah tahu bahwa yang datang mempersiapkan makanan buat mereka mal am itu adalah khalifah Umar bin Khatab !
Masya Allah!!

"Bukan main" dan Bukan main-main !!
Tentu kita semua rindu adanya pemimpin-pemimpin di semua lini yang seperti di atas; seperti Umar yang FARUQ dan juga seperti Abu Bakar yang SIDDIQ.

Penutup
"Ya Allah, jadikanlah kebaikan sebagai akhir dari semua urusan kami, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat." "Ya Tuhan kami, terimalah permohonan kami, sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi maha mengetahui, wahai Dzat yang maha hidup, yang memiliki keagungan dan kemuliaan."

*) Bahan kultum di Masjid As Salam Pusdiklat Kehutanan (Priyambudi S.), Bogor-Nopember 2006.

Pertemuanku bersama 2 Mutiara Kecil

Minggu, 08 Januari 2012 2 komentar


Rabu itu,, sepulang dari coaching dengan 2 saudariku yang lain. . pulang diliputi kegalauan, kegalauan yang akan membawaku kepada langkah-langkah nyata, aamiin.. kini aku pulang dari jalan Tubagus sendirian tanpa ditemani seorang sahabat cantik. Yang biasanya aku selalu tertidur di pojok angkot, kali ini mata terus terbelalak sampai aku turun di depan gang Panorama Setiabudhi. Pikiran melayang memikirkan ini dan itu, berkelana kesana dan kemari, berlari-lari menerawang ujung dunia, hhm..mungkin aku memang harus mencari seorang + alias “perantara”.. Hhsssttt... cerita di lain waktu aja,, hhe.
Setelah kaki ku langkahkan keluar angkot, kaki pun ikut galau mau ke Gerlong (cari buat makan malam) atau langsung melangkah ke kosan, dengan keadaan yang ga normal (kataku) kaki ini cuman bolak balik ngehadap ke jalan-berbalik-ke jalan-berbalik lagi,, bingung... trus aku liat 2 mutiara kecil di sebelahku,

“sedang bawa apa de?” tanyaku setengah sadar kala itu.

“botol teh” ucap mulut yang suci itu.

“kaya gitu dijual per kilogramnya berapaeun (masuk deh basa sundanya, hhe)?”

“seribu teh” ucap mutiara kecil yang sedang mau nyebrang itu.

“Hah, serius...? cuman seribu?” ucapku dengan mata terbelalak dan mengembalikan nyawaku yang entah sudah menerawang kemana.. “Ikut teteh yuuu... teteh di kosan ada banyak botol”.. ucapku dengan semangat.

Mengangguk...

Lalu berjalanlah aku ditemani 2 mutiara kecil itu menelusuri jalanan Panorama menuju kosanku,

“Masih sekolah de?” tanyaku sambil merangkul bahu salah satu mutiara kecil itu, sedang mutiara kecil yang satunya berjalan di belakang kami.

“masih teh..”

“kelas berapa?”

“kelas 4 SD”

“Oiya, kalian saudara?”

“iya, dia adik saya” ucap mutiara kecil itu sambil menunjuk ke arah belakang.

“Eh, nama kalian siapa?” tanyaku sambil merangkul mutiara kecil yang dibelakang.

“nama saya Anjas, dan adik saya namanya Rizki kelas 2 SD teh..”

“Oooo....” – “Kalian kurulilingan (baca : kelilingan ‘basa sunda’) nyari botol kaya gini sampai jam berapa?”

“sampai jam 1 teh, kadang sampai jam 2 juga”
 bukan gambar sebenarnya

Deggg.... hatiku pun langsung merunduk malu... jam segitu, aku sedang asik di kamar, sedang tidur di atas kasur yang empuk, di bawah selimut yang tebal, dihiasi oleh kegelapan lampu kamar yang selalu aku matikan dan ditemani oleh mimpi-mimpi indah.. Malu sangat ya Allah,, anak-anak kecil yang tak berdosa, yang belum tau beban hidup, di saat mereka harus istirahat mempersiapkan fisik dan kondisi untuk sekolah di keesokan harinya, mereka harus menyelusuri jalanan, eh salah...menyelusuri tong sampah satu ke tong sampah lainnya untuk mengumpulkan gelas minuman, botol, dan plastik-plastik bekas untuk diberikan ke ayah mereka yang selanjutnya untuk dijual dimana satu kilogram dari plastik-plastik itu dihargai 1000, bayangkan..!!! plastik itu beratnya berapa? Satu kilogram itu sebanyak apa? Dan harus mencari kemana mereka? Selama apa mereka harus menyelusuri jalanan? Pantas saja kalau mereka bilang, pulang ke rumah biasanya jam 1 kadang jam 2 dini hari. Ya Allah, hatiku pun tertegun dan mataku menahan air mata melihat perjuangan mutiara-mutiara kecil ini.

Sesampai di kosanku, aku yang seorang kolektor botol (sebut saja begitu, karena sebelum aku beli galon aku beli minuman mineral botol yang 1500 liter dan botolnya selalu aku kumpulkan), aku memiliki 2 kresek gedhe dan isinya botol semua. Lalu aku bawa botol-botol itu keluar dan aku serahkan kepada mereka yang menungguku di teras kosan. Lalu sebagai gantinya, aku minta mereka menemaniku untuk beberapa menit, jam malah.. 2 jam kalo ga salah. Mereka pun menurut begitu saja (aneh ya, ko mereka ga takut aku bohongi, misalkan ketika mereka menunggu di depan kosan, dan aku ga keluar lagi, hehehe  subhanallah yaa, pastinya Allah yang menggerakkan hati mereka untuk mempercayai orang yang baru mereka kenal).

Lalu aku pun meminta mereka menunggu ku di teras depan kosan, dan aku pun pergi meninggalkan mereka untuk pesan nasi goreng (maklum uda laper banget sejak pulang dari coaching, hehe). Ketika aku kembali, mereka masih duduk manis menungguku. Lalu aku ajak mereka ngobrol, mulai dari keluarga mereka, ibu mereka, adik, ayah dan pekerjaan orang tua mereka. Aku menanyai mereka tentang Allah, awalnya mereka menggeleng tidak tau siapa itu Allah, dan aku perlahan memberikan gambaran kepada mereka tentang Allah.
Aku sedikit menjelaskan sih, aku hanya melempar pertanyaan yang akhirnya mereka menjawab sendiri atas pertanyaan yang mereka ajukan.

“Adik-adik tau ga? Yang menciptakan kita itu siapa?”

Mereka menjawab “Allah..”

“Kalau Kucing?” – “Allah” – “Pohon?” – “Allah” – “Kalo rumah?” – “Bapak....” hehehehe.... pertanyaan pertama aku tutup dengan tertawa, (Ooops, mereka tidak ikut tertawa karena jawaban “bapak” menurut mereka adalah jawaban yang benar, tapi aku ngakak geli.. iya jawaban mereka memang benar, hanya saja ekspresi polos mereka masih membuatku tersenyum sendiri ketika mengingatnya, hihihiiiii)

Lalu aku mulai menanyai mereka tentang Sholat,

“Hayooo,, kalian suka sholat ga?” tanyaku dengan melempar senyum ke mereka. Saat mendengar pertanyaanku, sang kakak (Anjas) hanya bisa diam saja, sedangkan adiknya (Rizki) dengan polos menjawab “Tidak...”, lalu aku pun tersenyum kepada mereka.

“Bisa sholat tidak?”, dan mereka menjawabku dengan gelengan kepala.

“Papa ga pernah sholat teh” ucap Anjas padaku.

Sambil tak mengurangi senyum, aku pun memutar balik otak mencari jawaban yang pas. Lalu aku mencari metafora (perbandingan yang logis) supaya mereka menangkap apa yang aku maksudkan.

“Hhm... kan tadi yang menciptakan kita Allah ya... hewan, tumbuhan dan semuanya... coba Anjas dan Rizki menarik nafas dan menghembuskannya”, mereka pun mengikuti ucapanku sambil menarik dan menghembuskan nafas. “Nafas itu siapa yang ngasih?” tanyaku...

“Allah” jawab mereka. “Trus coba kalian tepuk tangan”, dan mereka pun bertepuk tangan. “Kalian bisa bergerak itu siapa yang ngasih?” – “Allah”, jawab mereka – “Nah, Allah itu baik banget kan?” hehehe... dan mereka pun mengangguk. “Mau ga kalian melakukan yang Allah suka?” tanyaku pada mereka, dan untuk kesekian kalinya mereka mengangguk.

“Allah itu suka orang yang sholat lho, mau ga teteh ajarin sholat?” dan dengan wajah antusias mereka mengangguk dan berucap “Mau teh..”...

Terus aku melihat sandal mereka yang warnanya sudah melebur dengan warna tanah liat, aku pun langsung bertanya kepada mereka, “Hayooo.. kalian sehari mandi berapa kali? Allah suka orang yang mandi dan bersih lho..” dan mereka pun saling menatap. “3 kali teh” ucap si kecil Rizki, “Wah beneran?” hehe, setengah ga percaya, orang aku aja mandi sehari 2 kali, kadang malah cuman 1 kali, kwkwkk... *kebongkar deh, heu.

Lalu aku tanya ke mereka “Hayo, sandalnya ga pernah dicuci ya?” hehehe... ucapku sambil sedikit meledek dan becanda.. “Hehehe, iya teh” ucap Anjas, “Yang aku dicuci ko” ucap si kecil Rizki...

Dan aku pun teringat nasi goreng yang aku pesan, lalu aku pun mendatangi si bapak Nasi Goreng “ko lama” pikirku.. trus si bapak pun membantuku membawa 2 piring dan aku membawa 1 piring.

“Nih, adik-adik... dimakan ya” ucapku sambil melahap nasi goreng yang sudah di hadapanku. Senang rasanya malam itu, sejenak aku lupakan gemuruh hatiku dan aku nikmati saat-saat bersama 2 mutiara kecil itu. Kami makan bersama di teras depan kosan.

Trus tiba-tiba si kecil Rizki bilang “Teh, nyeri untu” (baca : sakit gigi ‘baca sunda’).... “Waduhh....” aku langsung kelabakan bingung mau ngapain, soalnya dulu pernah ngerasain sakit gigi dan ga mau lagi lagi.. hhehe. “Tunggu di sini ya, teteh ambilkan air minum”, dan aku pun langsung lari ke kamar untuk ngambilik mereka minum. Dan ketika aku memberikan satu gelas air mineral ke Rizki aku bilang, “Rizki, air gelas ini tadi uda didoain sama teteh, kata teteh gini ‘ya Allah, semoga air ini menjadi obat untuk Rizki, beri kesembuhan pada gigi Rizki ya Allah’” ucapku, hehe.. berbohong sih... tapi gapapa kan, kali aja dia percaya dan meyakini dan akhirnya sembuh beneran, heu... da mereka anak-anak baik ini, pasti disayang juga donk sama Allah, 

“Udah sembuh ki?” tanyaku – “belum teh” jawabnya – Waduh, gmana ini ya, hehe.. ga manjur...

“Teh, udah.. wareg” (baca : kenyang ‘basa sunda’), “Ooh, yasudah ga dihabiskan gapapa”.. ucapku ragu, waduh mubadzir donk.. tapi kalo dihabiskan bisi aku malah nyakitin mereka dengan sakit giginya, hhm....

“Hayoooo, kalian ga pernah sikat gigi ya?” tanyaku sambil senyum – “Engga teh” jawab Rizki dan Anjas.  “Oke, sebentar yaa...” aku pu meninggalkan mereka ke kamar lagi, berharap ada yang bisa aku berikan pada mereka, dan untungnya ada 1 pasta gigi dari madu yang pernah dibawain sama bunda tersayang, trus sikatnya? Hhm..beli deh. Nah, pas aku liat uang di dompet aku, kebetulan banget tinggal 24ooo dan itu cukup untuk membayar nasi goreng, hahahahaa... galau deh, mana anak-anak kosan pada ga ada (tadinya niatnya mau minjem uang mereka dulu, hho), trus aku ke bawah aja.. “De, tadinya teteh mau ngasih sikat dan pasta gigi, tapi adanya pasta gigi doank, kalo kalian nanti di rumah beli sikat gigi gimana? Tanyaku – “Ga punya uang teh” – “Waduh, galau juga”.. lalu untuk terus menyambung silaturahim, aku bilang ke mereka “yasudah, semoga nanti kita ketemu lagi ya, toh teteh udah tau alamat rumah kalian, nanti kalau teteh ada kesempatan atau kita ketemu lagi, teteh beliin sikat dan pasta gigi, Allah suka orang yang sikat gigi lho” ucapku, dan mereka tersenyum dan bilang “iya”.

 Lalu mereka pun beranjak pergi sambil aku mengembalikan piring nasi goreng, “Udah ya, salam ke keluarga kalian” ucapku. Si Anjas uda berlalu, dan si kecil Rizki mendekat padaku dan bilang “Salim teh..”. Wowww... deggggg... aku pun langsung mengerutkan kening dan menarik ujung bibirku, pengen nangis tapi malu, heu... dan karena kedua tanganku membawa 3 piring, akhirnya aku hanya memberikan satu jari kelingkingku untuk dia cium. Ya Allah, maafkan aku. Sungguh aku ingin tangan ini banyak dicium oleh anak-anak seperti mereka, sebuah ketenangan tersendiri yang aku rasakan ketika aku bisa bersentuhan tangan dengan mutiara-mutiara seperti mereka. Dan kulihat mereka berlalu.

Pelajaran apa yang bisa aku ambil??? Banyakkkk....

Sebuah rasa syukur tersendiri bagiku, aku yang sering sms mama supaya cepat dikirim bla bla bla, kalau engga kadang ngambek. Cemen banget sih aku ini. Coba lihat 2 mutiara yang barusan berlempar cerita denganku, mereka rela disuruh orang tua mereka untuk mencari botol, dan kembali ke rumah sekitar jam 1 atau 2 dini hari, mereka tiada keluh kesah sedikitpun.

Oiya, karena aku Muslimah Pemimpi, aku pun menanyai mimpi mereka. Luar Biasa, si Anjas pengen jadi Masinis kereta api dan adiknya Rizki pengen jadi pilot. Dan di akhir pertemuan bersama mereka, aku pun mengucapkan “Anjas, suatu saat teteh pengen lihat dan kenal seorang masinis hebat bernama Anjas. Dan Rizki, suatu saat ketika teteh punya pesawat atau helikopter, teteh pengen Rizki yang jadi pilotnya”, dan senyuman serta tatapan penuh semangat dan harapan mereka lemparkan ke hatiku, dan hatiku pun penuh dengan gemuruh harapan suatu saat mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Hikmah kedua, aku jadi berfikir bahwa mimpi besarku adalah Berbisnis.. Why? You know Why??

Pertama,
karena aku ingin melihat anak-anakku kelak segala kebutuhannya terpenuhi olehku dan suamiku, tanpa mereka harus membuka tangannya untuk menengadah, dan aku ingin mengajari mereka berbisnis sejak kecil, aku libatkan mereka di setiap aku berbisnis sehingga mereka tau sberapa menantangnya mencari penghasilan itu. Nah lhoe, jadi maunya gimana? Hehe. Mau anaknya kerja atau engga, tentunya kerja ga kudu dengan melukai tangan mulus mereka donk, iya kan? Hhm.. sudah aku siapkan maping untuk pendidikan anakku nanti, santaiii... hhehehe.

Trus kedua,
supaya aku bisa membuka lapangan pekerjaan untuk mereka yang memang tidak memiliki pekerjaan. Dan akan aku utamakan untuk orang-orang yang memang membutuhkan dan tidak ada yang bisa dilakukan selain di tempat kerjaku. Lalu bagaimana kalau mereka melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaannya? Tenang, sebelum mereka diterjunkan di Rumah Makan (Ooops, keceplosan, hehe)  mereka harus ditraining dulu.

Banyakkk banget yang ingin aku lakukan Suatu Saat Nanti.. dan akan aku cicil langkah kecil sejak sekarang. ;)
Salam ~Nice Muslimah

WOMAN, DREAMS AND “MUNAKAHAT” IN MY PERSPECTIVE.

Jumat, 06 Januari 2012 1 komentar

Hari yang Luar Biasa, Rabu 04 Januari 2011 di suatu tempat yang penuh dengan bau masakan, kebanyakan orang yang datang ke sana dalam keadaan lapar, mungkin haus atau mungkin cari tempat diskusi dan ngobrol.
Kami bertiga duduk di salah satu meja yang bisa dibilang “center table” karena letak meja kami di tengah-tengah ruangan, diantara meja-meja yang lain. Kami membahas beberapa hal yang Luar Biasa, tentang sosok yang kuat nan penuh kelembutan “Wanita”. Merinding sangat saat memulai menulis artikel ini, kenapa? Karena meleset sedikit bisa-bisa aku membuka gemuruh yang sedang bergelut di dalam hati ini (tuh kan, uda keceplosan, hehe). Pembicaraan ini sudah tidak asing atau aneh lagi ketika seorang wanita/pria seusiaku membicarakannya, yaitu tentang “Munakahat”, sebuah bahasan yang cukup membuat galau para korbannya, ekstriim banget ya... “galau para korban”, heu.


Duduk bertiga di meja yang ada 4 kursi, jadi kami mengosongkan satu kursi lainnya.. Obrolan itu dimulai dengan sedikit sharing mengenai Wanita Pemimpi (aku menyebutnya), “apakah salah jika wanita itu bermimpi besar?” Hhm... sangat tidak, yang salah itu jika wanita tidak berani bermimpi besar. Namun ada beberapa wanita yang berfikir “Cukup dah, aku jadi istri dan ibu yang baik”, apakah itu sudah cukup? Tanyaku. Tidakkah kita malu jika suatu saat ada orang yang bertanya kepada anak kita “Ibu kamu kerja apa Nak?” – “di rumah saja Pak/Bu”.. mungkin anak kita biasa-biasa saja, namun kita sebagai seorang wanita hanya bisa menengadahkan tangan ke suami dan duduk diam di rumah, sekali kerja hanya beres-beres rumah, nyuci, masak, melayani suami, trus menunggu anak dan suami pulang. Sungguh tidak produktif bagiku.. (namun beda lagi ya jika ternyata memang sama suami tidak boleh kerja, tentunya kita kudu nurut sama suami tercinta donk, hhe) tapi larangan suami bukan berarti kita hanya bisa masak, menyapu, mencuci, menunggu suami pulang, membersihkan rumah dan pekerjaan-pekerjaan ibu rumah tangga yang memang sudah kodratnya dilakukan oleh seorang wanita, boleh donk kita melakukan yang lebih produktif lagi, misalkan membuka warung makan, katering, tempat les, lembaga pengembangan diri dan pekerjaan menghasilkan yang lain. Hal ini bukan berarti kita ingin menyaingi pendapatan suami ya, just in order to we as female can productive.


Aku sebagai seorang wanita pun memiliki mimpi yang besar, sangat besar malah. Selain bermimpi menjadi seorang ISTRI dan IBU bagi suami dan anak-anakku, aku pun memiliki mimpi untuk menjadi ibu untuk anak-anak yang lain utamanya yang memang mereka membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Aku pengen memiliki Rumah Makan dan Tempat Kursus, tentunya yang desain bangunannya serba natural (alam) dan penuh ijo-ijoan alias tumbuh-tumbuhan, bisa berupa saung. Rumah Makan dan Tempat Kursus itu berada di sekitar lokasi rumah, kenapa? Karena supaya ketika suami dan anakku pulang aku bisa mengetahuinya dan kembali ke aktivitasku sebagai seorang istri dan ibu, sehingga Rumah Makan dan Tempat Kursus itu tidak mengurangi pengabdianku kepada suami dan anakku. That’s My Great Dream.


Rumah Makan,
aku ingin yang desainnya sangat alami (natural), penuh pemandangan dan pilihan lokasi makan, karena setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Ada yang suka makan di bawah pohon, maka aku ingin di Rumah Makanku ada lokasi tempat makan yang berada di bawah pohon. Ada yang suka makan sambil mendengarkan musik, maka mereka pun bisa mendapatkan fasilitas itu di lokasi yang mereka pilih. Hhm...tentunya yang tema’nya tetap alam..


  
 Tempat Kursus,
aku ingin tempat kursus yang aku miliki berdesain alam. Tempat kursusnya ada yang indoor maupun ada yg outdoor, sehingga peserta didiknya tidak bosan dengan atmosfer ruang kursus yang itu-itu saja. Lalu untuk para pendidiknya kita bekali dulu “Quantum Teaching”, lalu mereka diajari cara mengenal karakter peserta didik supaya peserta didik bisa menerima pembelajarannya sesuai dengan kemampuan penerimaan yang mereka miliki.



 Aku pun ingin menjadi penulis,
bukan penulis sebuah teori melainkan penulis teori yang dikemas dengan gaya cerita yang khas. Aku anaknya suka membaca namun bukan membaca buku pelajaran atau buku kuliah, kenapa? Karena buku-buku tersebut terlalu kaku menurutku. Sampai suatu ketika aku berfikir “Kenapa sih buku pelajaran ini tidak berbentuk cerita?”, hahahaa.. Kalau aku menemui buku pelajaran atau kuliah, aku selalu meminta orang lain untuk membacanya lalu setelah itu diceritakan kepadaku hasil bacanya dengan gaya dia, jadi seolah-olah dia bercerita padaku tentang isi buku itu.
  


 Aku ingin menjadi pembicara.
Kalau ada yang tau teh Ninih (istri Aa Gym), aku ingin seperti beliau. Wajahnya selalu cerah memancarkan sebuah keimanan dan ketaqwaan, gaya bicaranya, senyumannya, tatapan matanya, sangat menginspirasi dan penuh kasih sayang (menurutku). Aku yang anaknya suka bercerita dan berbagi cerita, maka aku ingin kebiasaanku itu menjadi expert bagiku, aku ingin menjadi pembicara, pembicara tentang wanita (baik itu tentang kesehatan, pendidikan, kemuliaan, dan apapun tentang wanita). Aku ingin menjadi wanita teladan para kaum wanita, setiap bicaranya, tingkah lakunya, senyumnya, pandangan matanya penuh dengan pembelajaran, motivasi dan kebaikan.

That’s My Great Dream.
We will back to our discussion about woman and munakahat. Di usiaku yang menginjak 20 tahun dan akan masuk 21 tahun pada 03 Juli 2012 ini, perbincangan urusan “Munakahat” bukanlah hal yang tabu atau aneh lagi. Bahkan kalau kalian tau, aku sudah memikirkan tentang hal ini sejak aku masih di SMA, aku sudah memikirkan tentang pernikahan dan persiapan yang harus dilakukan, tapi karena masih SMA sehingga aku masih malu untuk membahasnya. Dan sekarang usiaku sudah masuk fase “mekar” kalau kami menyebutnya, sehingga pembahasan ini di kalangan kami akhwat-akhwat atau akhwat-ikhwan itu sudah biasa.
Beberapa hari terakhir ini ada topik yang berseliweran di telingaku, tentang menentukan pilihan pasangan, tentang menentukan hari pernikahan, sampai mengenai memutuskan “MENIKAH atau tidak”. Pembahasan itu cukup membuatku tersenyum manis pada diri sendiri. Kalau aku liat, sebenarnya mereka yang bercurah cerita kepadaku sudah pada siap, hanya saja ada satu kata yang membuat mereka meragu yaitu “tapi” sehingga kesiapan mereka langsung hancur dengan adanya satu kata yang mematikan itu. “Aku pengen nikah tahun ini, tapi.......” – “Aku pengen nikah sama dia, tapi....”, memang cukup membuat galau karena satu pilihan yang kita tentukan saat ini sangat berpengaruh untuk keberlangsungan iman dan taqwa kita satu, dua, sepuluh, seratus, bahkan sampai di akhirat nanti, tapi bukan berarti kita hanya bisa menimbang-nimbang terus, tanpa mengambil keputusan. Iya atau Tidak. Galau yang sama-sama dirasakan oleh baik sang ikhwan maupun sang akhwat.
Sang ikhwan galau, takut salah pilih, takut ditolak... Akhwatnya nungguin, serius ga sih? Kalo serius buruan datengin aby-umy aku, kalo ga keburu aku dikasihin ke orang lain. Nah lhoe, galau deh...
Aku ada metafora nih,
1 + 2 = 3
1 dan 2 tidak akan menjadi 3 kalau tidak ada +, sehingga 1 dan 2 membutuhkan perantara supaya menjadi 3..
Mungkin itu yang dibutuhkan ikhwan-akhwat itu, sebuah perantara. Perantara yang bisa nyampein maksud si Ikhwan dan si Akhwat. Beres dah. Segampang itu kah? Hhehehe...
Banyak sekali aku jumpai ikhwan-akhwat di lingkunganku yang mereka memiliki kedekatan khusus namun tak ada hubungan. Ikhwannya tau si akhwat ada feeling, dan si akhwat pun sebaliknya, saling tau. Mereka pun terjaga dengan aturan agama yang ga boleh nunjukin perasaan, yang ga boleh berdekatan, yang ga boleh ngobrol duaan, dan lain-lain sebelum halal. Sehingga mereka hanya bisa mengungkapkan dengan perilaku, ucapan, dan sesekali dengan tatapan mata. Lalu sesekali mereka ngobrol maka yang terucap adalah kalimat yang menjurus ke arah pernikahan (karena mau kapan lagi ada kesempatan ngobrol berdua kalau ga sekarang, hehe), akhirnya ada kesepakatan yang tak disepakati secara langsung, nikah tahun 201x... sambil berjalannya waktu, tentunya banyak yang terjadi, banyak yang dialami, mulai dari perasaan yang semakin dalam sampai perasaan yang tiba-tiba jauh, galau deh dua-duanya. Belum lagi kalau ada peperangan batin, seandainya si ikhwan bareng sama akhwat lain, maka si akhwatnya ngerasa cemburu, dan sebaliknya, wajar sih kalau kata “orang”. Padahal satu sama lain tau, “dia kan bukan milikku, kenapa aku harus cemburu?” nah disitulah terjadi peperangan batin antar dirinya dengan dirinya juga, hehe.. sampai akhirnya mutusin, nikah aja deh,, hhahaha J mending kaya gitu, kalau yang ada malah udahan deh, “dia ternyata kaya gitu”, nah lhoe...jadi gimana?? Itulah yang dialami olehku saat aku masih SMA, yang artinya sedang dalam masa pencarian. Orang yang udah mikirnya ke pernikahan, pasti dia ga akan memutuskan seperti itu, “Itung-itung latihan jika aku menjadi istrinya, pasti masalah seperti ini biasa nampak di permukaan datarnya hubungan pernikahan kami”, Asssiiiikkk....  ga ngeberat-beratin otak, bikin hati tenang, bikin senyum terus mengembang, dan waktu-waktu bisa dijalani dengan enjoy.
Sebenarnya yang dibutuhkan akhwat itu hanya satu, buktikan keseriusanmu. Ehm, kurang lebih seperti itulah..karena kebanyakan akhwat selalu dibingungkan dengan pilihan, memilih dia atau dia ya...kalau yang udah punya pilihan mah gampang, tak perlu mikir milih siapa, mungkin hanya kebingungan “kalau ternyata ga jadi sama dia, aku sama siapa ya?” yang ada ujung-ujungnya pasrah sama pilihan MR, kasian kan... (menurutku, heu)...
Sejak masa SMP aku udah punya planning, ntar kalau nikah aku ga mau dinikahkan sama orang yang baru aku kenal, aku pengen sama orang yang udah ngenal aku luar-dalem biar dia ga ngarepin aku yang lebih, takutnya kalo dia ngarepin aku lebih, eh ternyata akunya ga kaya gitu, dia kecewa, susah juga kan.. itu sih yang ada di pikiran aku sejak saat itu.
Galau juga kalau ngomongin urusan pernikahan, soalnya setiap orang pasti punya pendapatnya masing-masing, tentunya pendapat yang sesuai dengan skenario yang telah ia jalani.


Semoga Allah memberikan cahaya terang untuk para insan yang sedang dalam kegalauan, semoga Allah menunjukkan arah jalan yang pas untuk para insan yang sedang dalam kebingungan, semoga Allah segera memberikan jawaban atas kegalauan dan kebingungannya. Aamiin.
Ungkapan di atas sangat subyektif dan itu penilaianku, semoga jika ada yang memiliki kenan lain, you can disscuss with me via facebook Richa ‘Risa’ Kirei , twitter @Risa_is ..

salam ~Nice Muslimah

 
Muslimah Negarawan © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum