• Muslimah Sholehah

    Jika wanita cantik itu ibarat bintang-bintang langit, wanita yang tahajud di sepertiga malam tentulah yang paling bersinar di gemerlapan

  • Tsukuba University

    in Tokyo.

  • Rumah Pelangi

    Kita berwarna dan dengan keimanan kita ingin mewarnai lingkaran sekitar

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di depan Aula kampus UIN Suska

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di Kerajaan Siak Riau

Tampilkan postingan dengan label mahabbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahabbah. Tampilkan semua postingan

“REPOST-REVISI” Artikel Womans, Dreams and Munakahat

Selasa, 05 Maret 2013 0 komentar

Jika ada yang pernah baca tentang artikel saya yang serupa dengan judul di atas, sekarang saya akan merepost dan merevisi artikelnya. Dreams, akan terus berkembang, akan terus berubah, akan terus mengikuti alur perubahan sang Empunya Mimpinya..

Tepatnya saya menulis artikel ‘luar biasa’ (read: galau) itu pada tanggal 04 Januari 2011, dan sekarang saya merevisinya tepat pada 06 Februari 2013 (kurang lebih 2 tahun 1 bulan 2 hari setelahnya). Dan tak ada yang mengira bahwa sekarang saya akan merevisinya, banyak sekali yang harus direvisi, banyak beuudhh kata para gengges mah, heu.

Dreams, Impian.... jika pada saat itu saya bermimpi untuk memiliki tempat kursus, Rumah Makan bambu, Penulis dan Pembicara, maka pada saat inipun impian saya tak jauh dari itu semua, saya tetap ingin memiliki tempat kursus dan Rumah Makan Bambu sebagai sumber penghasilan mandiri selain pemasukan tetap dari sang Aby (someday) .. Harus ya itu mah, supaya suami dan anak saya bangga memiliki istri dan ibu yang mandiri, bukan untuk menyaingi *sekali lagi, just want to be a productive woman. Emang para Aby mau ya liat istrinya cuman duduk manis di rumah, menunggu dan menanti sang pejuang Akhirat pulang dari perjuangannya?? (heu). Lalu bagaimana dengan Impian menjadi Penulis dan Pembicara? Insya Allah impian itu juga tetap menjadi harapan masa depan. 2 impian itu akan teraih ketika kita memiliki prestasi yang layak untuk dibagikan, nah...yang perlu ditanyakan mau berprestasi di bidang apa nih Cha? Nah, ini dia yang perlu kita revisi... 2 impian itu tidak akan tertulis dengan cantik di DreamHeart ini.. tapi cukup “Berkaryalah”, insya Allah ketika sudah berkarya, berprestasi, maka hati akan tergerak untuk berbagi, entah itu berbagi dengan tulisan ataupun lisan. Saya hanya ingin menjadi orang yang selalu Berkarya, bukan untuk diri sendiri tapi untuk keluarga, lingkungan, masyarakat bahkan untuk agama dan negaraku. Menjadi Pelayan Masyarakat.

Ada beberapa tokoh yang sangat menginspirasiku dalam gerak juang ini..
Berikut wanita-wanita luar biasa itu..

1.    EMINE GULBARAN

Siapakah beliau?

Emine Gulbaran, istri RT Erdogan

Sosok wanita luar biasa, yang tetap mengulurkan kain kerudungnya di tengah-tengah kecaman kaum sekuler Turki. Bahkan karena kerudung yang menjulur itu pernah menggagalkan pertemuan antara presiden Perancis dan perdana Menteri turki dikarenakan presiden Perancis yang anti-Islam, namun apakah karena hal itu beliau menanggalkan kerudungnya? TIDAK. Namanya adalah Emine Gulbaran, keturunan Arab. Sejak kecil beliau hidup di tengah-tengah kaum sekuler Turki yang melarang warga negaranya berkerudung, namun beliau masih tetap berkerudung. Beliau menikah dengan seorang pemuda pengubah negara, Recep Thayyeb Erdogan, pemuda sederhana dari pesisir Laut Hitam Turki. Pemuda yang lahir di lingkungan Islam dan memiliki semangat perubahan yang sangat besar. Erdogan adalah tokoh Islam yang lahir di tengah-tengah pemerintahan sekuler yang dibangun oleh Kemal Attaturk (penghancur masa kekhalifahan Turki Usmani yang ia rubah menjadi pemerintahan Sekuler Turki). Berbagai perjuangan yang Erdogan lakukan sampai akhirnya saat ini Erdogan duduk di kursi orang nomor satu di Turki, sebagai Perdana Menteri (cerita selengkapnya ada di artikel yang berbeda).


Emine Gulbaran dan suami, Recep Thayeb Erdogan
Yaa,, Emine Gulbaran (Emine Erdogan) adalah sosok yang sangat menginspirasi saya saat ini, kegigihannya dalam memperjuangkan kewajiban muslimah yaitu berkerudung, kerendahan hatinya sebagai Ibu Negara saat ini, saat ada perang saudara di Arakan beliau hadir bersama Erdogan untuk mengunjungi korban perang, dengan lembut Emine memeluk korban perang.






2.    Najla Mahmoud

Najla Mahmoud, istri Moh. Mursi
Siapakah sosok Najla Mahmoud?
Beliau adalah istri Presiden Mesir saat ini, yaitu Dr. Muhammad Mursi, seorang presiden yang berhasil menumbangkan rezim Husni Mubarak yang berhasil menguasai Mesir selama 30 tahun dan menanamkan paham-paham sekuler. Najla yang notabene masih sepupu dengan Mursi, lahir pada tahun 1962 di Mesir dan menikah dengan Mursi pada tahun 1979. Sosok sederhana yang mendampingi orang nomor 1 di Mesir ini sangat berbeda dengan sosok ibu negara sebelumnya, yaitu Suzanne Mubarak (istri Husni Mubarak) yang terkesan glamour, Najla lebih terkesan sederhana dan keibuan. Sejak Mursi naik menjadi presiden, Najla menolak untuk pindah ke rumah kepresidenan, ia lebih sengan tinggal di apartemennya dengan alasan supaya masyarakatnya bisa menemuinya dengan mudah. Najla juga tidak mau disebut sebagai ibu negara, ia lebih suka dipanggil Pelayan Negara.
Najla Mahmoud
Itulah 2 dari beberapa muslimah yang sangat menginspirasiku dalam setiap perjuangan dan langkah, jika mereka bisa memperjuangkan Islam di bumi Sekuler, kenapa kita Tidak.!! Notabene kita memiliki tantangan yang sama dengan mereka. That’s My Big Dream.

Untuk masalah munakahat, yang saya sampaikan dalam artikel terdahulu.. Hmm... sekarang saya akan menyampaikan revisi perspektif saya dalam hal tersebut.

Menikah, bukan saja seperti yang kita dengung-dengungkan, menyatukan dua keluarga, menyatukan dua perjuangan, melengkapi tulang rusuk (bla bla bla).. tapi sejatinya menikah itu adalah untuk menguatkan perjuangan kita dalam menegakkan syariat Islam. Ketika saat masih sendiri kita berjuang mati-matian mondar-mandir kesana kemari sendirian, atau dengan sahabat-sahabat sejenis (ikhwan/akhwat) maka ketika sudah menikah kita akan bisa menguatkan satu sama lain, dan kapanpun. Sehingga menikah bukanlah halangan untuk berdakwah melainkan dengan menikah itu akan menguatkan pondasi dakwah.

Ketika dalam artikel saya sebelumnya mengatakan bahwa kurang sepakat jika seseorang itu pasrah dengan pernikahan yang diperantarain oleh Murabbi, maka saat ini saya mengatakan bahwa Murabbi adalah salah satu mediator pernikahan (selain media orang tua atau orang terdekat kita). Kenapa? Karena peran murabbi yang sangat strategis, mereka memahami kurang lebih keadaan kita dan keadaan medan dakwah, sehingga pernikahan kita bukanlah pernikahan yang satu arah melainkan bisa bersinergis sebagai pernikahan dalam dakwah. Just that. Semoga bermanfaat. Aamiin. J

Untukmu yang Terjaga

Sabtu, 29 September 2012 0 komentar

Tiba2 aku pun ingin bercerita tentang sebuah “Keluarga Ideal” ...

Ada sebuah puisi untuk seseorang di luar sana yang insyaAllah akan Allah gerakkan hatinya untuk memilihku *Someday.

Bersama ku rengkuh dinginnya pagi ini,
Bersama pula kuhadirkan keimanan di dalam hati untuk menyampaikan rasa syukur kepada Ilahi
Mata yang masih bisa terbuka,
Mulut yang masih bisa membaca surat cintaNya,
Tangan yang masih bisa diayunkan untuk membuka lembaran cinta,
Telinga yang masih bisa mendengar lantunan ayat-ayat cintaNya,
Sungguh semuanya adalah bukti kasihNya kepada kita.

Di dalam sepi dan rindunya hati kepada sosok yang dirahasiakan,
Allah sungguh indah mendesain kehidupan,
Tak seorang pun yang tau siapa pemuda itu, pun aku.
Seorang pemuda dengan imannya datang menghampiri,
Menyatakan niat baik untuk mengikatkan untaian tali yang suci, suatu saat nanti ...

Pemuda, jika kau mengharapkan wanita yang mulia,
Maka jagalah dirimu untuknya,
Jangan kau tebarkan perhatian kepada seluruh kaum sepertiku,
Kaum yang lemah hatinya, pun kaum yang paling renta..

Aku sebagai seorang wanita,
Tak akan rela jika melihat calon pemimpinku menebarkan perhatian dan kasih sayangnya kepada setiap insan wanita..
Sebagaimana aku menjaga, aku pun ingin peroleh insan yang terjaga pula..

Hari itu,
Dimana aku akan mengenakan gaun berwarna putih,
Aku ingin saat itu pula hatiku masih terjaga dengan bersih..
Menyambut kedatanganmu dengan senyuman indah,, dan istana hati yang megah ..

Pemuda, bekali dirimu dengan ilmu,
Ilmu kemana kau akan membawaku bersamamu,
Bersama menapaki jalanan cintaNya..

Kuingin bersamamu membuka madrasah ilmu,
Madrasah ilmu untuk generasi pejuang masa depan,
Seorang anak laki-laki yang memiliki keteguhan hati,
Dan seorang anak perempuan yang memiliki wajah dan hati yang rupawan..

Kan kita bangun istana di dunia dengan cahaya rindu kepadaNya,
Kan kita amankan rumah di surga dengan rantai wahyuNya,
Bersama kita jauhi neraka,
Dan kita berjalan menapaki surga bersama dengan anak-anak tercinta..

Aamiin yaa Robbal’alamiin ...

By : Annisa El Fath ‘Nice Muslimah’

WOMAN, DREAMS AND “MUNAKAHAT” IN MY PERSPECTIVE.

Jumat, 06 Januari 2012 1 komentar

Hari yang Luar Biasa, Rabu 04 Januari 2011 di suatu tempat yang penuh dengan bau masakan, kebanyakan orang yang datang ke sana dalam keadaan lapar, mungkin haus atau mungkin cari tempat diskusi dan ngobrol.
Kami bertiga duduk di salah satu meja yang bisa dibilang “center table” karena letak meja kami di tengah-tengah ruangan, diantara meja-meja yang lain. Kami membahas beberapa hal yang Luar Biasa, tentang sosok yang kuat nan penuh kelembutan “Wanita”. Merinding sangat saat memulai menulis artikel ini, kenapa? Karena meleset sedikit bisa-bisa aku membuka gemuruh yang sedang bergelut di dalam hati ini (tuh kan, uda keceplosan, hehe). Pembicaraan ini sudah tidak asing atau aneh lagi ketika seorang wanita/pria seusiaku membicarakannya, yaitu tentang “Munakahat”, sebuah bahasan yang cukup membuat galau para korbannya, ekstriim banget ya... “galau para korban”, heu.


Duduk bertiga di meja yang ada 4 kursi, jadi kami mengosongkan satu kursi lainnya.. Obrolan itu dimulai dengan sedikit sharing mengenai Wanita Pemimpi (aku menyebutnya), “apakah salah jika wanita itu bermimpi besar?” Hhm... sangat tidak, yang salah itu jika wanita tidak berani bermimpi besar. Namun ada beberapa wanita yang berfikir “Cukup dah, aku jadi istri dan ibu yang baik”, apakah itu sudah cukup? Tanyaku. Tidakkah kita malu jika suatu saat ada orang yang bertanya kepada anak kita “Ibu kamu kerja apa Nak?” – “di rumah saja Pak/Bu”.. mungkin anak kita biasa-biasa saja, namun kita sebagai seorang wanita hanya bisa menengadahkan tangan ke suami dan duduk diam di rumah, sekali kerja hanya beres-beres rumah, nyuci, masak, melayani suami, trus menunggu anak dan suami pulang. Sungguh tidak produktif bagiku.. (namun beda lagi ya jika ternyata memang sama suami tidak boleh kerja, tentunya kita kudu nurut sama suami tercinta donk, hhe) tapi larangan suami bukan berarti kita hanya bisa masak, menyapu, mencuci, menunggu suami pulang, membersihkan rumah dan pekerjaan-pekerjaan ibu rumah tangga yang memang sudah kodratnya dilakukan oleh seorang wanita, boleh donk kita melakukan yang lebih produktif lagi, misalkan membuka warung makan, katering, tempat les, lembaga pengembangan diri dan pekerjaan menghasilkan yang lain. Hal ini bukan berarti kita ingin menyaingi pendapatan suami ya, just in order to we as female can productive.


Aku sebagai seorang wanita pun memiliki mimpi yang besar, sangat besar malah. Selain bermimpi menjadi seorang ISTRI dan IBU bagi suami dan anak-anakku, aku pun memiliki mimpi untuk menjadi ibu untuk anak-anak yang lain utamanya yang memang mereka membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Aku pengen memiliki Rumah Makan dan Tempat Kursus, tentunya yang desain bangunannya serba natural (alam) dan penuh ijo-ijoan alias tumbuh-tumbuhan, bisa berupa saung. Rumah Makan dan Tempat Kursus itu berada di sekitar lokasi rumah, kenapa? Karena supaya ketika suami dan anakku pulang aku bisa mengetahuinya dan kembali ke aktivitasku sebagai seorang istri dan ibu, sehingga Rumah Makan dan Tempat Kursus itu tidak mengurangi pengabdianku kepada suami dan anakku. That’s My Great Dream.


Rumah Makan,
aku ingin yang desainnya sangat alami (natural), penuh pemandangan dan pilihan lokasi makan, karena setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Ada yang suka makan di bawah pohon, maka aku ingin di Rumah Makanku ada lokasi tempat makan yang berada di bawah pohon. Ada yang suka makan sambil mendengarkan musik, maka mereka pun bisa mendapatkan fasilitas itu di lokasi yang mereka pilih. Hhm...tentunya yang tema’nya tetap alam..


  
 Tempat Kursus,
aku ingin tempat kursus yang aku miliki berdesain alam. Tempat kursusnya ada yang indoor maupun ada yg outdoor, sehingga peserta didiknya tidak bosan dengan atmosfer ruang kursus yang itu-itu saja. Lalu untuk para pendidiknya kita bekali dulu “Quantum Teaching”, lalu mereka diajari cara mengenal karakter peserta didik supaya peserta didik bisa menerima pembelajarannya sesuai dengan kemampuan penerimaan yang mereka miliki.



 Aku pun ingin menjadi penulis,
bukan penulis sebuah teori melainkan penulis teori yang dikemas dengan gaya cerita yang khas. Aku anaknya suka membaca namun bukan membaca buku pelajaran atau buku kuliah, kenapa? Karena buku-buku tersebut terlalu kaku menurutku. Sampai suatu ketika aku berfikir “Kenapa sih buku pelajaran ini tidak berbentuk cerita?”, hahahaa.. Kalau aku menemui buku pelajaran atau kuliah, aku selalu meminta orang lain untuk membacanya lalu setelah itu diceritakan kepadaku hasil bacanya dengan gaya dia, jadi seolah-olah dia bercerita padaku tentang isi buku itu.
  


 Aku ingin menjadi pembicara.
Kalau ada yang tau teh Ninih (istri Aa Gym), aku ingin seperti beliau. Wajahnya selalu cerah memancarkan sebuah keimanan dan ketaqwaan, gaya bicaranya, senyumannya, tatapan matanya, sangat menginspirasi dan penuh kasih sayang (menurutku). Aku yang anaknya suka bercerita dan berbagi cerita, maka aku ingin kebiasaanku itu menjadi expert bagiku, aku ingin menjadi pembicara, pembicara tentang wanita (baik itu tentang kesehatan, pendidikan, kemuliaan, dan apapun tentang wanita). Aku ingin menjadi wanita teladan para kaum wanita, setiap bicaranya, tingkah lakunya, senyumnya, pandangan matanya penuh dengan pembelajaran, motivasi dan kebaikan.

That’s My Great Dream.
We will back to our discussion about woman and munakahat. Di usiaku yang menginjak 20 tahun dan akan masuk 21 tahun pada 03 Juli 2012 ini, perbincangan urusan “Munakahat” bukanlah hal yang tabu atau aneh lagi. Bahkan kalau kalian tau, aku sudah memikirkan tentang hal ini sejak aku masih di SMA, aku sudah memikirkan tentang pernikahan dan persiapan yang harus dilakukan, tapi karena masih SMA sehingga aku masih malu untuk membahasnya. Dan sekarang usiaku sudah masuk fase “mekar” kalau kami menyebutnya, sehingga pembahasan ini di kalangan kami akhwat-akhwat atau akhwat-ikhwan itu sudah biasa.
Beberapa hari terakhir ini ada topik yang berseliweran di telingaku, tentang menentukan pilihan pasangan, tentang menentukan hari pernikahan, sampai mengenai memutuskan “MENIKAH atau tidak”. Pembahasan itu cukup membuatku tersenyum manis pada diri sendiri. Kalau aku liat, sebenarnya mereka yang bercurah cerita kepadaku sudah pada siap, hanya saja ada satu kata yang membuat mereka meragu yaitu “tapi” sehingga kesiapan mereka langsung hancur dengan adanya satu kata yang mematikan itu. “Aku pengen nikah tahun ini, tapi.......” – “Aku pengen nikah sama dia, tapi....”, memang cukup membuat galau karena satu pilihan yang kita tentukan saat ini sangat berpengaruh untuk keberlangsungan iman dan taqwa kita satu, dua, sepuluh, seratus, bahkan sampai di akhirat nanti, tapi bukan berarti kita hanya bisa menimbang-nimbang terus, tanpa mengambil keputusan. Iya atau Tidak. Galau yang sama-sama dirasakan oleh baik sang ikhwan maupun sang akhwat.
Sang ikhwan galau, takut salah pilih, takut ditolak... Akhwatnya nungguin, serius ga sih? Kalo serius buruan datengin aby-umy aku, kalo ga keburu aku dikasihin ke orang lain. Nah lhoe, galau deh...
Aku ada metafora nih,
1 + 2 = 3
1 dan 2 tidak akan menjadi 3 kalau tidak ada +, sehingga 1 dan 2 membutuhkan perantara supaya menjadi 3..
Mungkin itu yang dibutuhkan ikhwan-akhwat itu, sebuah perantara. Perantara yang bisa nyampein maksud si Ikhwan dan si Akhwat. Beres dah. Segampang itu kah? Hhehehe...
Banyak sekali aku jumpai ikhwan-akhwat di lingkunganku yang mereka memiliki kedekatan khusus namun tak ada hubungan. Ikhwannya tau si akhwat ada feeling, dan si akhwat pun sebaliknya, saling tau. Mereka pun terjaga dengan aturan agama yang ga boleh nunjukin perasaan, yang ga boleh berdekatan, yang ga boleh ngobrol duaan, dan lain-lain sebelum halal. Sehingga mereka hanya bisa mengungkapkan dengan perilaku, ucapan, dan sesekali dengan tatapan mata. Lalu sesekali mereka ngobrol maka yang terucap adalah kalimat yang menjurus ke arah pernikahan (karena mau kapan lagi ada kesempatan ngobrol berdua kalau ga sekarang, hehe), akhirnya ada kesepakatan yang tak disepakati secara langsung, nikah tahun 201x... sambil berjalannya waktu, tentunya banyak yang terjadi, banyak yang dialami, mulai dari perasaan yang semakin dalam sampai perasaan yang tiba-tiba jauh, galau deh dua-duanya. Belum lagi kalau ada peperangan batin, seandainya si ikhwan bareng sama akhwat lain, maka si akhwatnya ngerasa cemburu, dan sebaliknya, wajar sih kalau kata “orang”. Padahal satu sama lain tau, “dia kan bukan milikku, kenapa aku harus cemburu?” nah disitulah terjadi peperangan batin antar dirinya dengan dirinya juga, hehe.. sampai akhirnya mutusin, nikah aja deh,, hhahaha J mending kaya gitu, kalau yang ada malah udahan deh, “dia ternyata kaya gitu”, nah lhoe...jadi gimana?? Itulah yang dialami olehku saat aku masih SMA, yang artinya sedang dalam masa pencarian. Orang yang udah mikirnya ke pernikahan, pasti dia ga akan memutuskan seperti itu, “Itung-itung latihan jika aku menjadi istrinya, pasti masalah seperti ini biasa nampak di permukaan datarnya hubungan pernikahan kami”, Asssiiiikkk....  ga ngeberat-beratin otak, bikin hati tenang, bikin senyum terus mengembang, dan waktu-waktu bisa dijalani dengan enjoy.
Sebenarnya yang dibutuhkan akhwat itu hanya satu, buktikan keseriusanmu. Ehm, kurang lebih seperti itulah..karena kebanyakan akhwat selalu dibingungkan dengan pilihan, memilih dia atau dia ya...kalau yang udah punya pilihan mah gampang, tak perlu mikir milih siapa, mungkin hanya kebingungan “kalau ternyata ga jadi sama dia, aku sama siapa ya?” yang ada ujung-ujungnya pasrah sama pilihan MR, kasian kan... (menurutku, heu)...
Sejak masa SMP aku udah punya planning, ntar kalau nikah aku ga mau dinikahkan sama orang yang baru aku kenal, aku pengen sama orang yang udah ngenal aku luar-dalem biar dia ga ngarepin aku yang lebih, takutnya kalo dia ngarepin aku lebih, eh ternyata akunya ga kaya gitu, dia kecewa, susah juga kan.. itu sih yang ada di pikiran aku sejak saat itu.
Galau juga kalau ngomongin urusan pernikahan, soalnya setiap orang pasti punya pendapatnya masing-masing, tentunya pendapat yang sesuai dengan skenario yang telah ia jalani.


Semoga Allah memberikan cahaya terang untuk para insan yang sedang dalam kegalauan, semoga Allah menunjukkan arah jalan yang pas untuk para insan yang sedang dalam kebingungan, semoga Allah segera memberikan jawaban atas kegalauan dan kebingungannya. Aamiin.
Ungkapan di atas sangat subyektif dan itu penilaianku, semoga jika ada yang memiliki kenan lain, you can disscuss with me via facebook Richa ‘Risa’ Kirei , twitter @Risa_is ..

salam ~Nice Muslimah

 
Muslimah Negarawan © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum