• Muslimah Sholehah

    Jika wanita cantik itu ibarat bintang-bintang langit, wanita yang tahajud di sepertiga malam tentulah yang paling bersinar di gemerlapan

  • Tsukuba University

    in Tokyo.

  • Rumah Pelangi

    Kita berwarna dan dengan keimanan kita ingin mewarnai lingkaran sekitar

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di depan Aula kampus UIN Suska

  • Temilnas FoSSEI 2012

    Temu Ilmiah Nasional FoSSEI di UIN Suska Riau Maret 2012. foto: di Kerajaan Siak Riau

Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan

Untukmu yang Terjaga

Sabtu, 29 September 2012 0 komentar

Tiba2 aku pun ingin bercerita tentang sebuah “Keluarga Ideal” ...

Ada sebuah puisi untuk seseorang di luar sana yang insyaAllah akan Allah gerakkan hatinya untuk memilihku *Someday.

Bersama ku rengkuh dinginnya pagi ini,
Bersama pula kuhadirkan keimanan di dalam hati untuk menyampaikan rasa syukur kepada Ilahi
Mata yang masih bisa terbuka,
Mulut yang masih bisa membaca surat cintaNya,
Tangan yang masih bisa diayunkan untuk membuka lembaran cinta,
Telinga yang masih bisa mendengar lantunan ayat-ayat cintaNya,
Sungguh semuanya adalah bukti kasihNya kepada kita.

Di dalam sepi dan rindunya hati kepada sosok yang dirahasiakan,
Allah sungguh indah mendesain kehidupan,
Tak seorang pun yang tau siapa pemuda itu, pun aku.
Seorang pemuda dengan imannya datang menghampiri,
Menyatakan niat baik untuk mengikatkan untaian tali yang suci, suatu saat nanti ...

Pemuda, jika kau mengharapkan wanita yang mulia,
Maka jagalah dirimu untuknya,
Jangan kau tebarkan perhatian kepada seluruh kaum sepertiku,
Kaum yang lemah hatinya, pun kaum yang paling renta..

Aku sebagai seorang wanita,
Tak akan rela jika melihat calon pemimpinku menebarkan perhatian dan kasih sayangnya kepada setiap insan wanita..
Sebagaimana aku menjaga, aku pun ingin peroleh insan yang terjaga pula..

Hari itu,
Dimana aku akan mengenakan gaun berwarna putih,
Aku ingin saat itu pula hatiku masih terjaga dengan bersih..
Menyambut kedatanganmu dengan senyuman indah,, dan istana hati yang megah ..

Pemuda, bekali dirimu dengan ilmu,
Ilmu kemana kau akan membawaku bersamamu,
Bersama menapaki jalanan cintaNya..

Kuingin bersamamu membuka madrasah ilmu,
Madrasah ilmu untuk generasi pejuang masa depan,
Seorang anak laki-laki yang memiliki keteguhan hati,
Dan seorang anak perempuan yang memiliki wajah dan hati yang rupawan..

Kan kita bangun istana di dunia dengan cahaya rindu kepadaNya,
Kan kita amankan rumah di surga dengan rantai wahyuNya,
Bersama kita jauhi neraka,
Dan kita berjalan menapaki surga bersama dengan anak-anak tercinta..

Aamiin yaa Robbal’alamiin ...

By : Annisa El Fath ‘Nice Muslimah’

NABI SULAIMAN DAN SEMUT

Minggu, 16 Januari 2011 0 komentar

by Tauladan dari Rasulullah SAW dan para Sahabat on Monday, January 17, 2011 at 8:18am
Sulaiman bin Daud adalah satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah SWT sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud Hud dan juga boleh memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An Naml, ayat 18-26 adalah contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan akan keistimewaan Nabi yang sangat kaya raya ini. Firman Allah,  Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata,  hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.  

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut,  hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. 

Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa kerana mendengar perkataan semut itu. Katanya,  Ya Rabbi, limpahkan kepadaku karunia  untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; karuniakan padaku hingga boleh mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh.   (An-Naml: 16-19)     

Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut,  Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?   Sebesar biji gandum,  jawabnya.    

Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebahagian biji gandum itu.  Mengapa engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya?  tanya Nabi Sulaiman.  Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah,  jawab si semut.  Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahawa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Kerana itu, aku harus tinggalkan sebahagian sebagai bekal tahun berikutnya.     

Nabi Sulaiman, walaupun ia sangat kaya raya, namun kekayaannya adalah nisbi dan terbatas. Yang Maha Kaya secara mutlak hanyalah Allah SWT semata-mata. Nabi Sulaiman, meskipun sangat baik dan kasih, namun yang Maha Baik dan Maha Kasih dari seluruh pengasih hanyalah Allah SWT semata. Dalam diri Nabi Sulaiman tersimpan sifat terbatas dan kenisbian yang tidak dapat dipisahkan; sementara dalam Zat Allah sifat mutlak dan absolut.      

Bagaimanapun kayanya Nabi Sulaiman, dia tetap manusia biasa yang tidak boleh sepenuhnya dijadikan tempat bergantung. Bagaimana kasihnya Nabi Sulaiman, dia adalah manusia biasa yang menyimpan kedaifan-kedaifannya tersendiri. Hal itu diketahui oleh semut Nabi Sulaiman. Kerana itu, dia masih tidak percaya kepada janji Nabi Sulaiman ke atasnya. Bukan kerana khuatir Nabi Sulaiman akan ingkar janji, namun khuatir Nabi Sulaiman tidak mampu memenuhinya lantaran sifat manusiawinya. Tawakal atau berpasrah diri bulat-bulat hanyalah kepada Allah SWT semata, bukan kepada manusia.

Doa; salah satu bukti cinta

Rabu, 05 Januari 2011 0 komentar


Thu, Nov 25, 2010
Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tali simpul Iman yang paling kuat adalah
cinta dan benci karena Allah.”
–HR. Ibnu Abi Syaibah-
Bagi orang mukmin, meletakkan perasaan cinta dan benci karena Allah adalah konsekuensi logis dari keimanan. Cinta dan loyalitas hanya mereka berikan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sedangkan kebencian dan baro’  mereka tujukan kepada orang-orang kafir dan sekutu-sekutunya. Rosululloh r sendiri menyebutkan bahwa tali simpul iman yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah. Karenanya, salah menempatkan cinta dan benci akan berakibat fatal. Bukankah Allah sendiri mengecap orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir menjadi teman-teman setia telah tersesat dari jalan yang lurus.
Allah Ta’ala berfirman,
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;  padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Robbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (al Mumtahanah :1).
Banyak sekali ayat yang menerangkan larangan Allah kepada kaum beriman untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai teman, sebagai pelindung, sebagai pemimpin. Sebaliknya, Allah menyebutkan, hanyasanya orang beriman adalah saudara bagi mukmin lainnya. Hubungan mereka di dalam kasih, sayang dan cinta laksana satu tubuh, bila ada satu bagian yang merasakan sakit maka seluruh badan juga ikut merasakannya. Ikatan tersebut akan senantiasa bersambung ketika mereka di dunia dan ketika mereka sudah berada di akherat kelak. Ketika di dunia, Rosululloh r memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk senantiasa peduli dan peka kepada keadaan saudaranya, baik dalam perkara dunia maupun urusan dien. Dan ketika di akherat, mukmin yang satu akan ingat kepada saudaranya. Antara yang satu dengan yang lainnya bisa memberikan syafa’at di antara mereka, dengan izin Allah Ta’ala.
Doa, salah satu bukti cinta
Di antara sekian banyak kebaikan yang berlimpah faedah, doa. Doa merupakan ibadah yang paling utama bahkan ad Du’au mukkhu al Ibadah, doa adalah inti dari ibadah itu sendiri. Doa adalah senjata dan tameng bagi orang mukmin. Tidak ada kesulitan, kegelisahan, bencana, malapetaka dan musibah lainnya yang bisa dihilangkan atau diringankan melebihi kekuatan doa. Karena yang diminta adalah Dzat yang memiliki langit dan bumi. Dzat yang menguasai jagad raya ini. Tidak ada sesuatu yang sulit bagi Nya. Semua amat mudah bagi Nya semudah Allah mengatur milyaran planet yang ada di maya pada.
Dan orang mukmin adalah orang yang paling peka terhadap keadaan di sekitarnya. Tidak ada kesedihan dan kegelisahan yang lebih menyakitkan hatinya melebihi melihat kemungkaran yang merajalela. Perkosaan, perzinaan, pencurian dan kemaksiatan lainnya lebih menyesakkan batinnya daripada musibah dunia yang seberapapun besarnya. Terlebih bila hal itu dilakukan oleh saudaranya, yakni ketika dia alpa. Oleh karenanya, orang mukmin berkewajiban untuk mengingatkan saudaranya dengan nasehat-menasehati dan juga mendoakan kebaikan serta memohon ampunan kepada Allah untuknya. Inilah salah satu keistimewaan cinta karena Allah. Mendapatkan ampunan dari Allah karena doa saudaranya. Subhanalloh.
Diriwayatkan oleh Abu Darda’ t, beliau berkata, Rosululloh r bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya kecuali malaikat berkata, “Dan kamu juga mendapat yang serupa.” (HR. Muslim nomor 4912).
Shofwan t meriwayatkan, “Ketika sampai di Negri Syam, aku bermaksud menjumpai Abu Darda’ t di rumahnya. Tetapi aku tidak bertemu dengannya dan hanya bertemu dengan Ummu Darda’.
Lalu ia bertanya kepadaku, “Apakah engkau akan menjalankan haji pada tahun ini ?”
“Ya” jawabku.
“Kalau begitu, doakan kami semoga selalu baik-baik saja. Sesungguhnya Nabi r pernah bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya itu mustajab, karena di atas kepalanya terdapat para malaikat yang setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, mereka berkata, “Amin, dan semoga  engkau mendapatkan kebaikan seperti itu pula.” (HR. Muslim).
Kalau cerdas, kita pasti melaksanakan perintah ini. Ketika kita ingin doa kita segera terkabulkan, maka kita tidak akan melupakan doa untuk saudara-saudara kita. Bukankah dengan doa yang kita lantunkan untuk saudara kita sebetulnya kita juga tengah berdoa untuk diri kita sendiri. Bahkan doa yang kita lantunkan akan diamini oleh para malaikat, makhluk yang senantiasa dekat dengan Allah.
Al Qodhi Iyadh mengatakan, “Ada sebagian salaf yang jika hendak berdoa untuk kebaikan dirinya, ia justru mendoakan saudaranya dengan doa tersebut karena doa itu pasti akan diijabahi dan ia akan mendapatkan hal yang sama.”
Inilah yang dilakukan oleh shahabat agung, Abu Darda’ t. Beliau tidak pernah lupa untuk mendoakan saudaranya seiman.
Ummu Darda’ meriwayatkan, “Abu Darda’ t memiliki 350 teman seiman dan seagama. Ia selalu mendoakan mereka setiap sholat. Lalu aku menanyakan kebiasaan itu kepadanya, dan ia menjawab, “Ketika seseorang mendoakan saudaranya dari jauh tanpa sepengetahuannya, Allah menugaskan dua malaikat untuk berkata, “Wa laka bi mitslin. Semoga engkau mendapatkan seperti itu pula.” Karena itu, tidakkah wajar bila aku ingin didoakan pula oleh para malaikat ?”
Ummu Darda’ juga meriwayatkan bahwa pada suatu malam, ketika Abu Darda’ t sedang shalat, ia menangis sembari berdoa, “Ya Allah, engkau telah memperbagus bentukku, maka perbaguslah akhlakku.” Doa tersebut selalu diulang-ulang hingga pagi hari.
Lalu aku bertanya, “Wahai Abu Darda’ , mengapa do’amu sejak semalam hanya meminta dibaguskan akhlak saja ?”
“Wahai Ummu Darda’, bila akhlak seorang muslim baik maka kebaikan akhlaknya akan memasukkannya ke  dalam jannah. Namun bila akhlaknya buruk maka keburukan akhlaknya akan  memasukkannya ke dalam naar. Dan seorang muslim pasti akan diampuni dosanya meski ia tidur.” jawab Abu Darda’
“Bagaimana hal itu bisa terjadi ?” tanyaku
“Karena saudaranya bangun di malam hari untuk bertahajjud. Lalu ia berdoa kepada Allah dan doanya dikabulkan. Kemudian ia mendoakan saudaranya dan doanya juga dikabulkan.” Jelas Abu Darda’.
Hal serupa juga diriwayatkan oleh Ka’ab Al-Ahbar t bahwa beliau berkata, “Berapa banyak orang yang Qiyamul lail dikaruniai rasa syukur oleh Allah dan berapa banyak orang yang tidur terlelap diampuni oleh Allah, yaitu pada dua insan yang saling mencintai karena Allah kemudian salah seorang dari keduanya melaksanakan sholat malam lalu Allah meridhoi sholat dan do’anya sehingga Dia tidak menolak do’anya sedikitpun. Di sela-sela do’anya di kegelapan malam, dia mengingat saudaranya yang tertidur dengan berdo’a, “Ya Allah, ampunilah saudaraku, fulan.” Allah pun mengampuni saudaranya padahal dia dalam keadaan tidur. (Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim : 6/31 dan Al-Faiq karya Az-Zamahsyary : 3/234-235).
Betapa indahnya kondisi orang-orang mukmin, bahkan ketika tidurpun mereka bisa mendapatkan ampunan dari Allah lantaran doa yang dilantunkan oleh saudara-saudaranya seiman. Kalau orang yang tidur saja mendapat pahala sedemikian besarnya, ampunan Allah lantas bagaimana dengan orang yang mendoakan.
Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa orang yang bahagia mendapatkan doa malaikat ada dua, yaitu pertama : orang yang didoakan oleh saudaranya secara ghaib karena malaikat yang ada di samping si pendoa mengatakan, “Amin.” Yang artinya, “Kabulkanlah doa orang ini untuk saudaranya.” Dan yang kedua, orang yang mendoakan, karena malaikat akan menyahutnya dengan mengatakan, “…wa laka bi mitslin. Dan engkau juga mendapatkan yang serupa.”
Diriwayatkan oleh Ubadah bin Shomit t, beliau berkata, “Aku mendengar Rosululloh r bersabda, “Barang siapa beristighfar untuk orang-orang beriman  (laki-laki dan perempuan), maka Allah akan menuliskan untuknya satu kebaikan pada setiap mukmin dan mukminah.” (HR. Thabrani. Haitsami dalam Majma’u az Zawa’id (10/94) mengatakan, hadits ini sanadnya shahih).
Kegembiraan kita akan membuncah dan melayang ke angkasa tatkala kita merenungi hadits ini. Satu istighfar yang kita lantunkan untuk kaum mukminin dan kaum mukminat bernilai pahala. Satu orang mukmin dihargai satu pahala. Padahal, berapa milyarkah jumlah kaum mukminin pada saat ini. Artinya, sebanyak itu pula pahala yang akan kita dapatkan. Hal inilah yang dijelaskan oleh Syaikh Ibrahim Muhammad an Nu’aim dalam bukunya, Kaifa Tuthilu Umroka al Intaji. Sungguh indah menjadi orang mukmin. Terlebih lagi jika kita berdoa dengan apa yang Allah abadikan dalam kitab Nya, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” Niscaya milyaran pahala akan kita dapatkan sesuai dengan jumlah kaum mukminin yang ada, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Kita akan menjadi millionair pahala.
Sebagai penutup, penulis paparkan apa yang ditulis Ibnul Jauzi dalam bukunya, Sifatu as Shofwah. Beliau mengisahkan bahwa Hamdun ad Dallal mempunyai satu lembar kertas catatan bertuliskan 300 nama teman-temannya. Ia selalu mendoakan mereka setiap malam. Namun, suatu malam ia tertidur dan lupa mendoakan mereka. Karenanya, di tengah tidurnya tiba-tiba dia mendengar suara, “Wahai Hamdun, bukankah engkau belum menyalakan lampu-lampumu malam ini ?” maka ia pun segera bangun menyalakan lampu dan mengambil lembarannya. Kemudian ia mendoakan mereka satu per satu hingga selesai.
Sekarang, mari kita membiasakan diri untuk senantiasa mendoakan kebaikan untuk saudara seiman kita, dan juga beristighfar untuk mereka. Semoga Allah memberikan taufik-Nya. Amin.
Maraji’; Menyongsong doa malaikat, misteri panjang umur, syahrun wahid li tarbiyati jiilin wa’id, shifatush shafwah.
Catatanku yang tertulis pada 8 Juni 2009 pukul 16.19
source : oaseimani

 
Muslimah Negarawan © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum